Kemenperin Ungkap Lebih dari 4.000 Lulusan Vokasi Sudah Bekerja, Sebagian Tembus Pasar Global
Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
Pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kian memperkuat perannya sebagai pemasok tenaga kerja bagi sektor manufaktur. Tidak hanya terserap di perusahaan dalam negeri, lulusan sekolah vokasi Kemenperin kini telah bekerja di 21 negara, mencerminkan meningkatnya daya saing sumber daya manusia (SDM) industri Indonesia di pasar global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut menunjukkan kualitas pendidikan vokasi industri semakin diakui oleh dunia usaha dan dunia industri, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Berdasarkan data Kemenperin, dari total 5.472 lulusan sekolah vokasi pada 2025, sebanyak 4.009 orang telah bekerja. Sebanyak 156 lulusan memilih berwirausaha, 704 melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sedangkan 603 lainnya masih menjalani proses rekrutmen di berbagai perusahaan.
"Capaian ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi industri mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," kata Agus saat memberikan Studium Generale pada Pelepasan Lulusan Serentak SMK-SMAK dan SMK-SMTI Kementerian Perindustrian 2026 di Bogor, Kamis (16/7).
Pada kegiatan tersebut, Kemenperin juga melepas 2.361 lulusan dari sembilan SMK-SMAK dan SMK-SMTI yang berada di bawah pembinaan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI). Para lulusan dipersiapkan menjadi analis kimia, teknisi, hingga tenaga profesional untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur nasional.
Agus menilai kebutuhan tenaga kerja terampil akan terus meningkat seiring penguatan hilirisasi dan pembangunan industri nasional. Karena itu, pendidikan vokasi menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan ketersediaan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan industri.
"Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan integritas. Kalian adalah bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan industrialisasi nasional. Indonesia Emas 2045 bukan proyek generasi saya, melainkan proyek kalian," ujarnya.
Prospek industri manufaktur yang masih bertumbuh juga dinilai akan memperbesar kebutuhan tenaga kerja vokasi. Pada triwulan I 2026, industri pengolahan tumbuh 5,04% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55%.
Selain itu, sektor manufaktur masih menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional dengan menyumbang 19,07% terhadap produk domestik bruto (PDB). Industri pengolahan juga menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja serta berkontribusi sekitar 82% terhadap total ekspor nasional dengan nilai hampir USD95 miliar sepanjang Januari–Mei 2026.
Agus menegaskan, lulusan vokasi memiliki peran strategis dalam menjaga daya saing industri. Analis bertanggung jawab memastikan kualitas produk sebelum dipasarkan, sedangkan teknisi menjaga agar proses produksi dan mesin pabrik tetap beroperasi secara optimal.
Baca Juga: 2.361 Lulusan Vokasi Kemenperin Siap Masuk Industri, 63 Persen Sudah Diterima Kerja
Baca Juga: Cara Daftar Pelatihan Vokasi Nasional Batch 3 Melalui Aplikasi SIAPkerja
"Jangan pernah merasa kecil. Kalian bukan pelengkap. Kalian adalah salah satu syarat berdirinya industri modern. Seorang analis menentukan apakah suatu produk layak keluar dari pabrik, sedangkan teknisi menjaga agar mesin dan proses produksi tetap berjalan dengan baik," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kompetensi harus diimbangi dengan integritas karena kepercayaan menjadi modal utama bagi pelaku industri.
"Bagi para analis, angka tidak bisa dinegosiasikan. Jangan pernah menandatangani hasil yang tidak kalian yakini kebenarannya. Menjaga integritas bukan hanya soal moral, tetapi juga melindungi konsumen, menjaga keselamatan pekerja, serta mempertahankan nama baik produk Indonesia di mata dunia," tutup Agus.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Annisa Nurfitri