Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Elon Musk Diam-diam Beli APR Energy Rp18 Triliun demi AI Grok

Elon Musk Diam-diam Beli APR Energy Rp18 Triliun demi AI Grok Kredit Foto: Instagram/Elon Musk
Warta Ekonomi, Jakarta -

Elon Musk dilaporkan mengakuisisi perusahaan pembangkit listrik bergerak APR Energy dengan nilai transaksi lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi memperkuat pasokan energi bagi pusat data (data center) xAI yang digunakan untuk melatih dan mengoperasikan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) Grok.

Akuisisi tersebut tidak diumumkan secara resmi. Informasi mengenai transaksi terungkap melalui dokumen early termination notice yang diterbitkan Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission/FTC) Amerika Serikat pada 14 Mei 2026.

Dalam dokumen itu, FTC menyatakan transaksi dapat dilanjutkan tanpa pemeriksaan antimonopoli lebih lanjut, membuka jalan bagi penyelesaian akuisisi.

Sebelum berpindah tangan, APR Energy dimiliki Fortress Investment Group yang mengambil alih aset perusahaan pada akhir 2024 sebelum kemudian melepasnya melalui entitas New APR Energy LLC.

Akuisisi ini memperlihatkan semakin besarnya investasi perusahaan teknologi dalam mengamankan pasokan energi di tengah lonjakan kebutuhan listrik untuk menopang pengembangan AI generatif. Berbeda dengan pembangkit listrik konvensional, APR Energy mengoperasikan turbin gas dan generator berbahan bakar diesel maupun gas alam yang dipasang di atas trailer, sehingga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.

Teknologi tersebut memungkinkan pembangkit mulai menghasilkan listrik dalam waktu kurang dari 10 menit setelah dinyalakan dan dapat dioperasikan hanya dalam hitungan hari. Kecepatan tersebut menjadi keunggulan dibandingkan pembangunan pembangkit permanen maupun jaringan transmisi baru yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Armada pembangkit bergerak APR Energy dinilai menjadi aset strategis bagi xAI yang tengah memperluas kapasitas komputasi untuk mengembangkan Grok. Superkomputer Colossus dan Colossus 2 di Memphis, Tennessee, sebelumnya diketahui telah menggunakan turbin gas bergerak sebagai sumber pasokan listrik tambahan untuk menopang kebutuhan komputasi AI.

Dengan menguasai APR Energy, Musk memperoleh akses langsung terhadap pembangkit listrik bergerak yang dapat ditempatkan di sekitar pusat data tanpa harus menunggu ketersediaan jaringan listrik dari utilitas setempat. Langkah tersebut berpotensi mempercepat ekspansi infrastruktur AI xAI di tengah persaingan ketat dengan perusahaan seperti OpenAI, Google, Anthropic, dan Meta yang juga terus meningkatkan kapasitas pusat data mereka.

Namun, strategi tersebut juga menuai sorotan. Operasional turbin gas di pusat data xAI di Memphis sebelumnya memicu gugatan dari sejumlah organisasi lingkungan, antara lain NAACP, Southern Environmental Law Center, dan Earthjustice.

Kelompok tersebut menuding xAI melanggar Clean Air Act karena mengoperasikan puluhan turbin gas tanpa izin emisi.

Menurut mereka, operasional turbin tersebut berpotensi menghasilkan lebih dari 2.000 ton emisi nitrogen oksida (NOx), polutan yang berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara dan pembentukan kabut asap.

Baca Juga: Kehilangan Rp2.936 Triliun Usai Saham SpaceX Ambruk 30%, Elon Musk Tak Lagi Jadi Triliuner

Baca Juga: Pemerintah Siapkan National AI Roadmap, Airlangga Bidik Indonesia Jadi Pusat AI Dunia

Akuisisi APR Energy juga menarik perhatian karena dinilai bertolak belakang dengan citra Musk sebagai pendukung transisi energi bersih. Selama ini, ia dikenal mendorong pengembangan kendaraan listrik, energi surya, dan teknologi penyimpanan energi melalui Tesla serta SolarCity.

Meski demikian, meningkatnya kebutuhan listrik untuk menjalankan model AI berskala besar membuat sejumlah perusahaan teknologi mulai mencari berbagai alternatif sumber energi yang dapat tersedia dalam waktu singkat. Di tengah perlombaan membangun infrastruktur AI, kepastian pasokan listrik kini menjadi salah satu faktor penentu daya saing, selain kapasitas komputasi dan ketersediaan cip (chip) AI.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri