Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Putra Menkeu Purbaya Prediksi Krisis Global 2028-2032, Sebut Bisa Lebih Parah dari COVID-19

Putra Menkeu Purbaya Prediksi Krisis Global 2028-2032, Sebut Bisa Lebih Parah dari COVID-19 Kredit Foto: Instagram
Warta Ekonomi, Jakarta -

Putra Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Achilles Sadewa, memprediksi potensi terjadinya krisis ekonomi global pada periode 2028 hingga 2032. Prediksi tersebut disampaikan Yudo dalam perbincangannya di kanal YouTube Samuel Chris pada 28 Mei 2026.

Yudo menyebut prediksinya mengacu pada teori siklus bisnis yang melihat adanya pola berulang dalam pergerakan ekonomi dunia. Menurut dia, Amerika Serikat berpotensi menjadi titik awal krisis yang kemudian berdampak ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Untuk Amerika sih 2028 sampai 2032 ada kemungkinan krisis menurut teori siklus bisnis. Indonesia terdampak dong pastinya," ujar Yudo.

Ia bahkan memperkirakan krisis yang akan datang dapat memiliki dampak lebih besar dibandingkan krisis akibat pandemi COVID-19 maupun krisis ekonomi 1998.

"Kalau dibandingkan krisis yang terjadi di COVID, lebih mengerikan itu daripada yang nanti akan datang. Jauh lebih ngeri ini sih sebenarnya yang nanti," katanya.

Dalam analisisnya, Yudo menyoroti pola sejarah ekonomi dunia. Ia mengaitkan krisis besar 1929 atau Great Depression dengan pandemi flu Spanyol yang terjadi sekitar satu dekade sebelumnya.

Menurutnya, terdapat kemiripan pola antara pandemi flu Spanyol pada 1920 dengan pandemi COVID-19 pada 2020 yang kemudian diikuti potensi tekanan ekonomi global beberapa tahun setelahnya.

"Lu lihat aja tahun 1929 itu karena krisis, krisis terpanjang sepanjang sejarah. Dan tahun 1920 ada pandemi flu Spanyol. Mirip kan? Tahun 2020 ada COVID, tahun 2029, 2030, 2032 mungkin aja krisis terjadi lagi dari Amerika," jelasnya.

Meski memperkirakan Indonesia ikut terkena dampak, Yudo menilai tekanan ekonomi yang dialami Indonesia kemungkinan tidak akan sebesar Amerika Serikat.

"Untuk Indonesia paling dampaknya enggak sebesar Amerika," ujarnya.

Menghadapi potensi ketidakpastian ekonomi tersebut, Yudo mengingatkan masyarakat agar mulai mempersiapkan kondisi keuangan. Ia menyarankan masyarakat memiliki dana darurat dalam bentuk aset yang dinilai lebih aman saat terjadi gejolak ekonomi.

Beberapa aset yang disebut Yudo sebagai pilihan antara lain emas, perak, dan obligasi pemerintah.

Selain itu, ia menyarankan masyarakat menghindari ketergantungan pada deposito karena imbal hasilnya dinilai dapat tertinggal dibandingkan laju inflasi. Ia juga mendorong masyarakat memanfaatkan peluang investasi ketika harga aset turun.

"Sekarang kalian puas-puasin dulu beli saham di harga murah. Beli Nvidia," sarannya.

Yudo juga menekankan pentingnya terus memperbarui pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan teknologi.

Dalam kesempatan yang sama, Yudo turut menyampaikan pandangannya mengenai pasar aset. Ia memprediksi harga Bitcoin berpotensi mencetak rekor tertinggi baru pada 2027 dengan mencapai level 130.000 dolar AS.

Sementara untuk pasar saham Indonesia, ia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada di sekitar titik terendah sehingga menjadi peluang bagi investor untuk mulai melakukan pembelian secara bertahap.

"Bottom sih sekarang dekat-dekat bottom. Jadi sekarang waktunya cicil," kata Yudo.

Selain membahas ekonomi global dan investasi, Yudo juga menyoroti sistem perpajakan Indonesia. Ia menilai sistem pelaporan pajak mandiri masih memiliki kelemahan karena memberikan ruang bagi wajib pajak untuk menentukan sendiri jumlah yang dilaporkan.

Menurutnya, sistem tersebut berbeda dengan Amerika Serikat yang lebih banyak menggunakan mekanisme pelaporan otomatis berbasis data.

Baca Juga: Bakal Banyak Barang Subsidi di Kopdes Merah Putih, Prabowo Larang Diperjualbelikan

"Menurut gua sistem perpajakan Indonesia itu aneh. Negara mana yang mau minta pajak ke warganya tapi disuruh mereka yang tentukan sendiri nominal yang mau dibayar?" kritiknya.

Yudo berharap sistem perpajakan Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih otomatis dalam beberapa tahun ke depan.

"Kita pelan-pelan akan merubah sistem, mungkin dua atau tiga tahun akan ke sana," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: