Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Utang PTPP Membengkak ke Rp4,49 Triliun, Laba Konsolidasi Ikut Turun

Utang PTPP Membengkak ke Rp4,49 Triliun, Laba Konsolidasi Ikut Turun Kredit Foto: PTPP
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT PP (Persero) Tbk (PTPP) menghadapi tekanan likuiditas pada semester I-2026. Di tengah penurunan pendapatan dan posisi kas, utang bank jangka pendek perseroan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp4,49 triliun hingga akhir Juni 2026.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (22/7/2026), utang bank jangka pendek kepada pihak berelasi meningkat dari Rp1,73 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp4,49 triliun.

Pinjaman tersebut didominasi fasilitas kredit dari bank-bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)sebesar Rp3,09 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp1,09 triliun, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp206,93 miliar, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp99,06 miliar.

Selain itu, PTPP juga memiliki pinjaman jangka pendek kepada pihak ketiga sebesar Rp652,38 miliar, yang berasal dari PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BBJB).

Seiring peningkatan utang, posisi kas dan setara kas perseroan mengalami penurunan signifikan. Per akhir Juni 2026, kas PTPP tercatat Rp1,17 triliun, turun dari Rp2,89 triliun pada akhir 2025.

Lonjakan pinjaman juga berdampak pada meningkatnya beban keuangan perusahaan. Hingga semester I-2026, beban keuangan mencapai Rp1,04 triliun, naik dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp807 miliar. Perseroan juga membukukan beban lain sebesar Rp258,94 miliar dan beban pajak final Rp193,56 miliar.

Di sisi operasional, pendapatan PTPP mengalami penurunan menjadi Rp5,95 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp6,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban pokok pendapatan juga turun menjadi Rp5,19 triliundari Rp5,78 triliun.

Meski demikian, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp193,46 miliar, dibandingkan Rp65,24 miliar pada semester I-2025.

Baca Juga: PTPP Rampungkan Sekolah Rakyat Kupang, Menteri PU Pastikan Siap Dipakai

Baca Juga: PTPP Kantongi Proyek Tower 4 ITS Senilai Rp151,9 Miliar

Baca Juga: PTPP Jual Bisnis Hotel Rp546,49 Miliar ke HIN

Namun, peningkatan laba induk tersebut tidak tercermin pada laba bersih konsolidasi. Hal itu dipengaruhi lonjakan rugi yang diatribusikan kepada kepentingan non-pengendali menjadi Rp176,09 miliar, meningkat lebih dari 11 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kerugian tersebut berasal dari sejumlah entitas anak dan perusahaan investasi, antara lain PT Centurion Perkasa Iman, PT PP Properti Tbk (PPRO), PT PP Semarang Demak, dan PT PP Presisi Tbk (PPRE).

Akibatnya, laba bersih konsolidasi PTPP hingga akhir Juni 2026 turun menjadi Rp17,36 miliar, dari Rp51,26 miliarpada semester I-2025.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri