Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Arus Dana ETF Bitcoin Berbalik Positif, Capai Rp1,36 Triliun dalam Sepekan

Arus Dana ETF Bitcoin Berbalik Positif, Capai Rp1,36 Triliun dalam Sepekan Kredit Foto: Indodax
Warta Ekonomi, Jakarta -

Produk spot Bitcoin Exchange-Traded Fund (ETF) di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana masuk (net inflow) sebesar US$75,7 juta atau sekitar Rp1,36 triliun sepanjang periode perdagangan 13–17 Juli 2026. Capaian tersebut mengakhiri tekanan arus keluar yang mendominasi selama sekitar dua bulan terakhir dan menjadi sinyal mulai pulihnya sentimen investor institusi terhadap aset kripto.

Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin sempat mengalami arus keluar sebesar US$424,7 juta pada awal pekan. Namun, tren tersebut berbalik pada empat hari perdagangan berikutnya dengan arus dana masuk secara konsisten yang secara kumulatif mencapai sekitar US$500,4 juta.

Pembalikan tersebut menghasilkan net inflow mingguan sebesar US$75,7 juta sekaligus memperpanjang tren arus dana positif selama dua pekan berturut-turut.

Perbaikan arus dana ETF turut terjadi ketika harga Bitcoin menunjukkan penguatan. Di pasar INDODAX, harga Bitcoin pada pekan ketiga Juli 2026 diperdagangkan di kisaran Rp1,18 miliar per koin.

CEO INDODAX William Sutanto mengatakan ETF menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan investor institusi untuk memperoleh eksposur terhadap Bitcoin tanpa harus memiliki aset kripto secara langsung. Karena itu, pergerakan arus dana ETF kerap dijadikan indikator untuk membaca perubahan sentimen pelaku pasar institusional.

“Arus dana ETF bukan hanya mencerminkan minat terhadap Bitcoin, tetapi juga menggambarkan bagaimana investor institusi mulai kembali meningkatkan eksposurnya terhadap aset berisiko setelah melalui periode ketidakpastian yang cukup panjang. Namun, hal ini belum dapat diartikan sebagai perubahan tren pasar secara keseluruhan,” ujar William dalam keterangannya.

Meski demikian, ia menilai arus dana ETF tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan dalam menentukan arah investasi.

Menurutnya, pergerakan pasar aset kripto masih dipengaruhi berbagai faktor makroekonomi, mulai dari inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, kondisi likuiditas global, hingga perkembangan regulasi di berbagai negara.

“ETF memang dapat menjadi indikator awal perubahan sentimen investor institusi. Namun, arah pergerakan pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor lain seperti inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, likuiditas global, hingga perkembangan regulasi di berbagai negara. Oleh karena itu, penting untuk melihat berbagai indikator secara menyeluruh sebelum berinvestasi,” katanya.

Baca Juga: Inflasi AS Turun Tajam, Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat

Baca Juga: Bitcoin Jeblok ke Bawah US$60.000, Investor Ramai-Ramai Amankan Dana

William menambahkan, meningkatnya partisipasi investor institusi melalui ETF menunjukkan bahwa aset digital semakin diterima sebagai bagian dari sistem keuangan global.

Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap menerapkan prinsip Do Your Own Research (DYOR) dan menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing, mengingat volatilitas pasar kripto masih relatif tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri