Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Masyarakat Ngeluh Harga Pangan Naik Selama MBG, Mendag Bilang Begini

Masyarakat Ngeluh Harga Pangan Naik Selama MBG, Mendag Bilang Begini Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kenaikan harga sejumlah bahan pangan di tengah kembali bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Namun, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan kondisi tersebut bukan sinyal buruk, melainkan bagian dari terciptanya keseimbangan baru antara produsen dan konsumen.

Menurut Budi, salah satu contohnya terlihat pada harga telur ayam yang kini bergerak mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET). Ia menilai kondisi tersebut justru menunjukkan pasar mulai berada pada titik yang sehat.

"Harga telur kemarin kan berapa? Rp26 ribu, padahal HET-nya Rp30 ribu kan?" kata Budi.

Ia menjelaskan HET dirancang sebagai titik keseimbangan yang sama-sama menguntungkan produsen maupun konsumen. Jika harga terlalu rendah, produsen berisiko merugi hingga mengurangi produksi, yang pada akhirnya justru bisa memicu kelangkaan dan lonjakan harga.

"Ketika ketemu atau sekarang harganya mendekati (HET), sekarang kan sudah hampir Rp28 ribu. Jadi sudah bagus," ujarnya.

Baca Juga: Percuma Teriak Stop MBG! Kepala BGN Baru: Tidak akan Ini Tender Politiknya Prabowo

Budi menambahkan, salah satu faktor yang mendorong peningkatan harga menuju level yang lebih seimbang adalah kembali berjalannya program MBG. Program tersebut dinilai meningkatkan penyerapan berbagai komoditas pangan. 

"Sekarang penyerapannya lebih bagus, salah satu faktornya ya MBG juga sudah berjalan kembali. Jadi sebenarnya MBG itu bisa menjadi penyeimbang antara permintaan dan penawaran," ungkap Budi.

Menurutnya, kehadiran MBG membuat ekosistem pangan menjadi lebih stabil karena hasil produksi petani dan peternak memiliki kepastian pasar. Sebelum program itu berjalan, harga komoditas cenderung berfluktuasi akibat permintaan yang tidak menentu.

Dalam kondisi produksi melimpah, produsen berisiko mengalami kelebihan pasokan. Sebaliknya, ketika produksi menurun sementara permintaan meningkat, harga bisa melonjak tajam.

"Ketika ada MBG ini justru stabil. Jadi permintaan terus ada, produksinya ini kan jadi konsisten dengan permintaan yang ada," ucap Budi.

Ia pun meyakini keberlanjutan program MBG akan memberikan kepastian permintaan bagi produsen, sehingga mereka dapat menyesuaikan produksi secara lebih konsisten. Dengan begitu, gejolak harga pangan yang selama ini dipicu ketidakpastian pasar diharapkan dapat semakin terkendali.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri