Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Thailand Gelontorkan Rp11 Triliun untuk EV, Perlukah Indonesia Meniru?

Thailand Gelontorkan Rp11 Triliun untuk EV, Perlukah Indonesia Meniru? Kredit Foto: PLN

Industri Minta Insentif Fokus untuk EV Lokal

Di sisi lain, pelaku industri berharap pemerintah mengarahkan seluruh insentif kepada kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri dan menggunakan mayoritas komponen lokal.

Juru bicara Automotive Industry Club di bawah FTI, Surapong Paisitpattanapong, menilai kebijakan tersebut akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar karena mampu meningkatkan produksi domestik sekaligus memperluas lapangan kerja.

"Semakin banyak produksi kendaraan listrik di dalam negeri berarti semakin banyak lapangan kerja, pendapatan yang lebih tinggi, dan penerimaan pajak yang lebih besar. Ini menjadi situasi yang menguntungkan bagi pelaku usaha, konsumen, maupun pemerintah," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden Electric Vehicle Association of Thailand, Siamnat Panassorn. Menurutnya, program tukar tambah kendaraan sebaiknya hanya berlaku untuk kendaraan listrik buatan Thailand. Ia juga mendorong pemerintah memprioritaskan elektrifikasi sepeda motor dan bus umum karena memiliki kontribusi emisi yang cukup besar.

Taksi dan Pikap Jadi Prioritas

Salah satu skema yang sedang dikaji pemerintah adalah bantuan pembiayaan bagi pengemudi taksi yang diwajibkan mengganti kendaraan berusia 10 tahun mulai tahun depan. Dengan dukungan tersebut, cicilan harian kendaraan listrik diperkirakan turun menjadi sekitar 500 baht per hari dari sebelumnya sekitar 700 baht selama lima tahun.

Baca Juga: Tren Unik di China, Pemilik Mobil Listrik Ganti Model Baru Secepat Ganti Ponsel

Selain itu, Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas mengatakan program juga akan mencakup pembelian kendaraan baru, konversi pikap ke kendaraan listrik, hingga peralihan ke kendaraan berbahan bakar biodiesel B20 melalui kombinasi subsidi dan pinjaman berbunga rendah.

Segmen pikap sendiri memiliki posisi strategis di Thailand karena menyumbang lebih dari 60% total produksi kendaraan nasional sekaligus menopang industri komponen dan lapangan kerja manufaktur.

Jika terealisasi, langkah Thailand ini bisa menjadi salah satu contoh bagaimana insentif kendaraan listrik tidak hanya dipakai untuk mendorong transisi energi, tetapi juga sebagai instrumen memperkuat daya saing industri otomotif nasional. Perspektif tersebut menjadi menarik untuk dicermati, termasuk bagi Indonesia yang hingga kini masih mengkaji arah kebijakan insentif kendaraan listrik berikutnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman