Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Thailand Gelontorkan Rp11 Triliun untuk EV, Perlukah Indonesia Meniru?

Thailand Gelontorkan Rp11 Triliun untuk EV, Perlukah Indonesia Meniru? Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Thailand tengah menyiapkan langkah besar untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus menyelamatkan industri otomotifnya yang sedang lesu. Pemerintah negara itu mengkaji program senilai 24 miliar baht atau sekitar Rp11 triliun (US$714 juta) untuk mengganti hingga 80.000 kendaraan tua dengan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Kebijakan tersebut menarik perhatian karena tak hanya berorientasi pada pengurangan emisi, tetapi juga dirancang untuk menghidupkan kembali sektor otomotif yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan akibat tingginya utang rumah tangga dan ketatnya penyaluran kredit.

Mengutip Reuters, skema yang tengah dibahas awalnya ditujukan bagi kendaraan angkutan umum dan komersial seperti taksi, ojek, tuk-tuk, bus, hingga truk. Namun, pemerintah kini mempertimbangkan memperluas cakupan program agar seluruh kategori kendaraan listrik dapat menikmati insentif tersebut.

"Kami sedang mempertimbangkan apakah bantuan tersebut perlu diperluas ke semua kategori kendaraan, bukan hanya kendaraan untuk transportasi," kata Wakil Menteri Perhubungan Thailand Siripong Angkasakulkiat kepada Reuters.

Pembahasan itu menguat setelah Mahkamah Konstitusi Thailand menyatakan rencana pemerintah untuk menarik utang darurat sebesar 400 miliar baht atau sekitar US$11,9 miliar sah secara hukum. Putusan tersebut membuka ruang fiskal bagi pemerintah untuk meningkatkan belanja, termasuk mendukung program transisi energi.

Insentif Bukan Sekadar Subsidi

Pemerintah Thailand tidak hanya mempertimbangkan pemberian subsidi pembelian kendaraan listrik. Dukungan juga dapat diberikan melalui pinjaman berbunga rendah hingga insentif pajak bagi kendaraan yang memenuhi syarat untuk diganti.

Komite yang dipimpin Kementerian Keuangan Thailand kini tengah mengevaluasi berbagai proyek yang akan didanai melalui skema pinjaman tersebut, termasuk program elektrifikasi kendaraan.

Baca Juga: Industri Otomotif Thailand Terancam Kolaps Akibat Banjir EV Cina, Insentif Pajak Segera Berakhir

Strategi ini juga diarahkan untuk membangkitkan kembali industri otomotif Thailand yang selama ini dikenal sebagai basis produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara.

Pada 2024, penjualan mobil domestik Thailand tercatat turun ke level terendah dalam 15 tahun. Lesunya permintaan dipicu tingginya beban utang rumah tangga dan ketatnya persyaratan pembiayaan kendaraan, terutama untuk segmen pikap yang selama ini menjadi tulang punggung industri otomotif negara tersebut.

Data Federation of Thai Industries (FTI) menunjukkan sepanjang 2025 penjualan mobil di Thailand mencapai 621.166 unit, termasuk 120.301 kendaraan listrik penumpang. Sementara itu, penjualan sepeda motor mencapai sekitar 1,7 juta unit.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman