Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Take Over KPR Kuasai 60% Pasar di Tengah Tekanan Ekonomi dan BI Rate Tinggi

Take Over KPR Kuasai 60% Pasar di Tengah Tekanan Ekonomi dan BI Rate Tinggi Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tekanan ekonomi pada semester I-2026 mengubah pola pembiayaan di pasar properti nasional. Di tengah kenaikan suku bunga, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan meningkatnya biaya hidup, skema take over kredit pemilikan rumah (KPR) kini mendominasi sekitar 60% pasar pembiayaan rumah.

CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan perubahan tersebut menunjukkan masyarakat semakin selektif dalam memilih skema pembiayaan setelah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) naik menjadi 5,75%.

"Perubahan arah kebijakan suku bunga mendorong masyarakat untuk semakin selektif dalam memilih skema pembiayaan rumah. Di tengah kondisi tersebut, kami melihat pasar tidak melemah, melainkan beradaptasi. Hal ini tercermin dari data Pinhome yang menunjukkan meningkatnya aktivitas Take Over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% pasar KPR," ujar Dara dalam konferensi pers Tren Properti: Hunian Sebagai Simbol Peningkatan Kualitas Hidup di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Selain mengubah preferensi pembiayaan, tekanan ekonomi juga meningkatkan jumlah rumah yang dipasarkan. Pinhome mencatat inventori rumah tapak nasional tumbuh 5% dibandingkan semester sebelumnya, seiring meningkatnya urgensi pemilik untuk menjual aset di tengah ketidakpastian ekonomi.

Menurut Dara, kondisi sosial ekonomi, termasuk gelombang PHK dan kenaikan biaya hidup, menjadi faktor yang mendorong bertambahnya listing rumah di berbagai daerah.

Dari sisi permintaan, pasar KPR komersial masih didominasi rumah dengan harga Rp300 juta hingga Rp1 miliar. Segmen tersebut menyumbang sekitar 49% dari total permintaan pembiayaan, sedangkan rumah dengan harga di bawah Rp300 juta berkontribusi sekitar 21%.

"Harga properti yang paling banyak bergerak tertinggi itu di kisaran harga Rp300 juta sampai Rp1 miliar. Proporsinya paling tinggi itu hampir 50% properti yang dibeli," kata Dara.

Pinhome juga mencatat dinamika pasar properti dipengaruhi kebijakan di tingkat daerah. Penundaan belanja infrastruktur memperlambat pertumbuhan inventori rumah di kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), yakni Samarinda dan Balikpapan.

Baca Juga: Prabowo Tinjau Akad Massal KPR Subsidi, Candai Wartawan: Jangan Hoax-Hoax Ya

Baca Juga: BTN Optimistis KPR Tumbuh 11% Meski Alami Perlambatan

Baca Juga: Dominasi Pembiayaan KPR FLPP, Bank BSN Kuasai 23,4% Pangsa Pasar Rumah Rakyat

Pertumbuhan inventori di kedua kota tersebut turun dari 9,2% pada semester II-2025 menjadi 4,5% pada semester I-2026.

Sementara itu, rencana moratorium pembangunan di Bali Selatan turut memengaruhi pasokan rumah. Inventori hunian di Kabupaten Badung tercatat turun 1,6% dibandingkan semester sebelumnya.

Temuan tersebut menunjukkan pasar properti masih bergerak di tengah tekanan ekonomi, meski perilaku konsumen dan strategi pembiayaan mengalami perubahan seiring tingginya suku bunga dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: