Mantan Pengurus PDIP Ngaku Sudah Curigai Ijazah Jokowi Sejak 2012: Waktu Itu..
Kredit Foto: Istimewa
Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali memanas. Kali ini, sorotan datang dari pengakuan mantan Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDIP DKI Jakarta, Denny Iskandar, yang mengaku pernah terlibat langsung dalam proses verifikasi dokumen administrasi Jokowi menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012.
Pengakuan tersebut diungkapkan melalui perbincangannya dengan jurnalis senior Hersubeno Arief yang ditayangkan di kanal YouTube miliknya. Dalam pembahasan itu, Denny mengaku sempat menemukan hal yang menurutnya janggal saat memeriksa dokumen pencalonan Jokowi.
Hersubeno menjelaskan, Denny merupakan salah satu pengurus Bapilu PDIP DKI Jakarta yang bertugas memverifikasi kelengkapan administrasi Jokowi pada proses pencalonan tahun 2011-2012.
Menurut Denny, perhatian utamanya saat itu tertuju pada foto yang tercantum di ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM).
Baca Juga: Pantas Prabowo Ogah Campuri Kasus Ijazah? Orang PDIP Bongkar Peran Jokowi di Gerindra
Ia mengaku melihat adanya perbedaan antara foto pada ijazah dengan penampilan Jokowi yang hadir langsung saat proses administrasi.
"Waktu itu foto di ijazah memakai kacamata, sementara sosok Jokowi yang mendaftar tidak mengenakan kacamata. Namun karena fokus saat itu adalah mengamankan keputusan partai, proses verifikasi administrasi tetap dilanjutkan," kata Denny.
Dalam kesempatan yang sama, Denny juga memberikan klarifikasi terkait namanya yang sebelumnya sempat disebut oleh politikus PDIP Bitor Suryadi. Ia menegaskan keterlibatannya hanya sebatas menjalankan tugas administratif sebagai pengurus Bapilu PDIP.
Denny menjelaskan, seluruh dokumen administrasi Jokowi saat itu diserahkan oleh tim dari Solo. Ia menyebut proses tersebut melibatkan Muhammad Isnaini yang dikenal sebagai Ketua Relawan Alap-Alap Jokowi, serta Eko Sulistyo yang ketika itu merupakan mantan Ketua KPUD Solo.
Selain menyinggung proses verifikasi dokumen, pembicaraan tersebut juga mengulas dinamika internal PDIP menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012.
Dalam tayangan itu disebutkan bahwa almarhum Taufiq Kiemas dikabarkan sempat tidak menyetujui pencalonan Jokowi dan lebih mendukung Fauzi Bowo. Berdasarkan kesaksian almarhum Panda Nababan, Taufiq disebut memiliki penilaian tersendiri terhadap sosok Jokowi pada masa itu.
Baca Juga: Anies Baswedan: Krisis 98 Pemicunya Swasta, Sekarang Pemerintah yang Biang Keroknya
Meski sempat diwarnai dinamika internal, PDIP akhirnya tetap mengusung pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
Pasangan tersebut berhasil memenangkan kontestasi, yang kemudian menjadi titik awal perjalanan politik Jokowi hingga terpilih sebagai Presiden RI pada Pemilu 2014 dan kembali memenangkan pemilihan pada 2019.
Sementara itu, polemik mengenai ijazah Jokowi hingga kini masih menjadi bagian dari proses hukum yang terus bergulir dan tetap menyita perhatian publik.
Terdakwa Tifauziah Tyassuma (Dokter Tifa) akan kembali melanjutkan sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis, 6 Agustus 2026. Sementara tersangka lainnya Roy Suryo masih memperjuangkan praperadilan jilid III di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri