Trump Bilang Menghentikan Serangan ke Iran, Teheran: Bohong!!!
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim telah menyetujui penundaan serangan baru terhadap Iran setelah menerima permintaan dari Teheran dan sejumlah negara di Timur Tengah.
Namun, pemerintah Iran membantah pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai "kebohongan baru".
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (1/8), Trump menyatakan militer AS berada dalam kondisi siap tempur untuk menghadapi Iran dengan kekuatan penuh.
"AS siap tempur dan siap sedia untuk melawan Republik Islam Iran dengan tingkat daya gentar militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II," tulis Trump.
Meski demikian, Trump mengaku telah menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara Timur Tengah untuk menunda serangan karena adanya kesepakatan yang sedang dibahas.
Menurut Trump, kesepakatan tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan penghentian ancaman nuklir Iran.
"Kami baru saja diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk menunda serangan apa pun karena batasan-batasan kesepakatan telah disepakati," ujarnya.
Trump menegaskan keputusan tersebut bergantung pada kemampuan kedua pihak untuk segera mencapai kesepakatan.
Pernyataan Trump langsung dibantah oleh sumber militer Iran. Pada Minggu (2/8), kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan bahwa Teheran tidak pernah meminta Washington membatalkan serangan.
Sumber militer Iran menyebut klaim Trump sebagai "kebohongan baru" dan menilai pernyataan itu sebagai upaya untuk memberikan tekanan kepada negara-negara Teluk.
Menurut laporan tersebut, angkatan bersenjata Iran saat ini tetap berada dalam kondisi siaga penuh dan siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi juga memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah yang disebutnya sebagai tindakan "petualangan".
Araghchi menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas tindakan tersebut akan menanggung konsekuensinya.
Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat di tengah perbedaan pernyataan dari kedua negara terkait kemungkinan kesepakatan baru dan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: