Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Manufaktur RI Keluar dari Zona Kontraksi, PMI Naik ke Level 50,2

Manufaktur RI Keluar dari Zona Kontraksi, PMI Naik ke Level 50,2 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir. Memasuki awal kuartal III-2026, aktivitas industri berhasil kembali ke jalur ekspansi, tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global.

Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2, meningkat tajam dari 46,9 pada Juni 2026. Kembalinya indeks ke atas level 50 menandakan aktivitas manufaktur kembali berekspansi, didorong oleh meningkatnya volume produksi, membaiknya permintaan, serta pulihnya penyerapan tenaga kerja.

Pemulihan ini menjadi yang pertama sejak Februari 2026. Selain produksi yang kembali meningkat, pesanan baru mulai stabil seiring tumbuhnya kepercayaan pelanggan dan bergulirnya sejumlah proyek baru. Di sisi lain, sektor manufaktur juga kembali membuka lapangan kerja setelah selama empat bulan sebelumnya melakukan penyesuaian jumlah tenaga kerja.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menilai capaian tersebut mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek industri nasional, meski tantangan berupa kenaikan biaya bahan baku dan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi.

"Kami menyambut baik kembalinya PMI Manufaktur Indonesia ke level ekspansif 50,2 pada Juli 2026. Kenaikan 3,3 poin dari bulan Juni ini mengonfirmasi bahwa roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat. Peningkatan output dan tumbuhnya lapangan kerja baru memperlihatkan bahwa kepercayaan konsumen serta permintaan pasar domestik terus membaik," ujar Febri di Jakarta, dikutip Rabu (5/8/2026).

Menurut hasil survei S&P Global, sentimen pelaku industri juga menunjukkan perbaikan. Tingkat optimisme terhadap prospek usaha dalam 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Pada saat yang sama, laju kenaikan harga bahan baku mulai melambat dan menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir, sehingga memberikan ruang bagi industri untuk menekan biaya produksi.

Febri mengatakan, membaiknya kinerja manufaktur tidak lepas dari dukungan sejumlah kebijakan pemerintah yang memberikan kepastian bagi dunia usaha. Salah satunya adalah keberlanjutan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dinilai mampu menjaga daya saing industri padat energi.

Menurutnya, kepastian harga dan pasokan gas bumi memberikan manfaat bagi berbagai sektor strategis, mulai dari industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, hingga oleokimia. Kondisi tersebut ikut mendorong meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis dalam setahun ke depan.

Selain HGBT, Kementerian Perindustrian juga mengapresiasi terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai relaksasi atau pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik yang telah resmi berlaku. Kebijakan tersebut dinilai menjadi stimulus penting bagi industri yang bergantung pada bahan baku plastik, seperti sektor kemasan, makanan dan minuman, otomotif, serta elektronika.

Relaksasi bea masuk tersebut diharapkan mampu menekan beban biaya produksi yang sebelumnya meningkat akibat fluktuasi nilai tukar dan gangguan pasokan global.

"Kombinasi antara kepastian HGBT dan berlakunya PMK relaksasi bea masuk bahan baku plastik merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam menjaga struktur biaya industri tetap efisien. Langkah konkret ini terbukti langsung meredam tekanan biaya input yang melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir, sekaligus memacu optimisme pelaku industri," kata Febri dalam keterangannya, dikutip Selasa (5/8/2026).

Baca Juga: Indeks Kepercayaan Industri Naik ke 53,10, Manufaktur Indonesia Makin Ekspansif pada Juli 2026

Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

Meski demikian, Kementerian Perindustrian mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal, termasuk dinamika rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar. Pemerintah, kata Febri, akan terus menjaga ketersediaan bahan baku, keterjangkauan energi, serta perlindungan pasar domestik agar momentum pemulihan industri dapat berlanjut sepanjang semester II-2026.

Secara regional, capaian PMI Indonesia juga menempatkan industri manufaktur nasional kembali berada di jalur pertumbuhan bersama sejumlah negara di Asia. Pada Juli 2026, Indonesia mencatat PMI sebesar 50,2, setara dengan Malaysia (50,2) dan lebih tinggi dibandingkan Myanmar (49,3).

Sementara itu, Filipina mencatat 51,8, Vietnam 52,9, China 50,9, dan Australia 52,0. Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada dalam fase ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra