Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ekspor Tertahan Gegara LTJ, BAI Kembali Kirim 15 Kontainer Alumina Besok

Ekspor Tertahan Gegara LTJ, BAI Kembali Kirim 15 Kontainer Alumina Besok Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Produksi PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Dindin Rajidin, mengungkapkan perusahaan menjadi salah satu pihak yang terdampak tertahannya ekspor produk olahan logam akibat belum bakunya aturan terkait kandungan logam tanah jarang (LTJ).

Dindin menyebut sebanyak 15 kontainer alumina milik perseroan sempat tertahan saat akan dikirim ke pasar luar negeri. Akibat kondisi tersebut, kontainer yang berada di Pelabuhan Dwikora, Pontianak, akhirnya ditarik kembali ke lokasi perusahaan.

“Kemarin volume yang tertahan sekitar 15 kontainer. Jadi kita masih ada 15 kontainer di (Pelabuhan) Dwikora yang tertahan, terus kita ambil kembali karena kan daripada stay di sana gitu, kita bawa balik ke site,” ucapnya dalam gelaran HIPMI di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurut Dindin, jumlah alumina yang terdampak mencapai sekitar 300 ton. Namun, dirinya tidak merinci negara tujuan ekspor komoditas tersebut.

Setelah pemerintah melalui Kantor Staf Presiden (KSP) memberikan kepastian terkait penyelesaian kendala ekspor, BAI kembali mengirimkan kontainer tersebut untuk proses ekspor.

“Tapi setelah ada pengumuman dari KSP bahwa kita bisa ekspor kembali, kita sudah kirim kembali ke Dwikora ... Sekitar 300 ton ya itu,” jabarnya.

Dindin mengatakan, setelah proses harmonisasi aturan selesai, pemerintah akan menggelar seremoni pemulihan ekspor produk logam olahan Indonesia di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (7/8/2026).

“Jadi besok ada acara seremonial dari Kemenko [Perekonomian] yang di-lead oleh KSP di Pontianak untuk mulai ekspor kembali,” kata Dindin.

PT BAI merupakan perusahaan joint venture antara dua anggota holding pertambangan MIND ID, yakni PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Perusahaan tersebut mengelola proyek strategis Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Kadin Proyeksi Ekspor Nikel RI Susut 5 Juta Ton Imbas Pemangkasan RKAB

Baca Juga: Pelat Timah Bebas Pajak Masuk RI Bikin Industri Domestik Terjepit

Proyek SGAR terbagi dalam dua fase dengan masing-masing kapasitas produksi sebesar 1 juta ton alumina. SGAR Fase 1 yang menelan investasi sekitar Rp16 triliun telah resmi beroperasi. Sementara itu, SGAR Fase 2 baru memasuki tahap awal pembangunan melalui proses groundbreaking, bersamaan dengan pembangunan smelter aluminium dan fasilitas pembangkit listrik pendukung.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra