Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dari Seram Timur ke Panggung Nasional, Perjalanan Bahlil Lahadalia yang Disorot Prabowo, Luhut, dan Rosan

Dari Seram Timur ke Panggung Nasional, Perjalanan Bahlil Lahadalia yang Disorot Prabowo, Luhut, dan Rosan Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tepuk tangan panjang terdengar ketika Bahlil Lahadalia berdiri di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh nasional. Hari itu bukan hanya tentang perayaan ulang tahun ke-50, tetapi juga tentang perjalanan panjang seorang anak dari kawasan timur Indonesia yang kini berada di lingkar utama pengambilan keputusan negara.

Dalam acara peluncuran 10 buku karyanya, Bahlil tidak hanya merayakan capaian pribadi. Ia membuka kembali cerita tentang masa lalu, tentang keterbatasan keluarga, perjuangan membangun karier, hingga perjalanan panjang mengawal agenda hilirisasi industri Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu tokoh yang memberikan kesaksian mengenai perjalanan tersebut. Menurut Prabowo, kepemimpinan seseorang tidak semata ditentukan oleh latar belakang, melainkan dibentuk melalui proses panjang menghadapi kesulitan.

Prabowo melihat perjalanan hidup Bahlil sebagai contoh bahwa tantangan dapat menjadi ruang pembentukan karakter seorang pemimpin.

"Kepemimpinan tidak bisa diberikan sebagai hadiah. Kepemimpinan didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang," ujar Prabowo dalam sambutannya dalam perayaan yang berlangsung di Djakarta Teater, Jumat (7/8/2026).

Prabowo menilai pengalaman hidup Bahlil sejak kecil menjadi salah satu faktor yang membentuk keberaniannya dalam mengambil keputusan. Menurut dia, seseorang yang tidak pernah menghadapi hambatan akan sulit memahami bagaimana memimpin orang lain.

Bagi Prabowo, kemampuan seseorang tidak selalu tercermin dari tempat ia menempuh pendidikan. Ia melihat keberanian, kecerdasan, dan kemampuan membaca situasi menjadi faktor penting dalam perjalanan seorang pemimpin.

Luhut dan Bab Hilirisasi Indonesia

Jika Prabowo berbicara mengenai karakter kepemimpinan, Luhut Binsar Pandjaitan mengingat perjalanan Bahlil dalam salah satu agenda ekonomi terbesar pemerintah: hilirisasi.

Luhut mengenang masa ketika dirinya bersama Bahlil memperjuangkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel. Saat itu, kebijakan tersebut menuai kritik dan bahkan menghadapi gugatan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Namun, menurut Luhut, waktu kemudian menunjukkan hasil berbeda. Industri pengolahan nikel berkembang dan kawasan industri seperti Morowali serta Halmahera Tengah menjadi bagian dari rantai pasok industri global.

Luhut juga menyoroti hal lain dari buku yang ditulis Bahlil. Menurutnya, buku tersebut tidak hanya berisi catatan keberhasilan, tetapi juga mengakui berbagai persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Mulai dari pemerataan manfaat industri bagi daerah penghasil, kesempatan bagi pengusaha lokal, hingga isu lingkungan dan keselamatan kerja.

"Bangsa hanya bisa memperbaiki apa yang berani ia akui," kata Luhut.

Menurut Luhut, tantangan berikutnya adalah memastikan hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan industri, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.

Ia bahkan menyampaikan pesan kepada Bahlil bahwa pekerjaan rumah yang sudah ditulis dalam buku tersebut kini harus diwujudkan dalam kebijakan nyata.

Rosan: Saya Mengenal Bahlil Sebelum Ia Menjadi Menteri

Cerita berbeda datang dari Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani. Ia membawa perspektif dari hubungan panjang selama lebih dari dua dekade.

Rosan mengaku telah mengenal Bahlil sejak sebelum menjadi Ketua Umum HIPMI.

"Saya mengenal beliau lebih dari 20 tahun," ujar Rosan.

Menurut Rosan, sejak awal ia melihat ada karakter yang membedakan Bahlil dari banyak orang lain. Ia menilai Bahlil memiliki keberanian, kemampuan membangun hubungan, serta kegigihan dalam mengejar tujuan.

Bahkan ketika Bahlil mencalonkan diri sebagai Ketua Umum HIPMI, Rosan menjadi salah satu orang yang memberikan dukungan ketika banyak pihak meragukan peluangnya.

Saat itu, pesaing Bahlil dinilai memiliki modal lebih kuat, baik dari sisi bisnis maupun jaringan. Namun Rosan melihat ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni kerja keras dan konsistensi.

Bahlil dan Cerita dari Timur Indonesia

Di balik berbagai jabatan yang pernah ia emban, Bahlil mengaku perjalanan tersebut tidak pernah masuk dalam bayangannya ketika masih kecil.

"Saya sungguh tidak mengira akan berada di panggung ini, bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke-50, bersama dengan Bapak Presiden," kata Bahlil.

Ia mengenang masa kecilnya di Papua ketika keluarganya hidup sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah, keluarganya harus bekerja keras, bahkan menjual berbagai hasil usaha kecil agar bisa bertahan.

Bahlil mengatakan dirinya tidak pernah membayangkan bisa berada di pusat pemerintahan dan menjadi bagian dari kabinet dua presiden.

"Tidak pernah terlintas saya yang tinggal di Papua akan berada di jantung negara, Ibu Kota Jakarta," ujarnya.

Ia menyebut modal yang membawanya bertahan bukan hanya kemampuan pribadi, tetapi juga kesetiaan, loyalitas, komitmen, dan kerja keras.

Dalam pidatonya, Bahlil juga mengingat kembali perjalanan awal kebijakan hilirisasi ketika dirinya mendapat tugas untuk menghentikan ekspor bijih nikel. Keputusan itu menjadi salah satu langkah besar yang kemudian mengubah arah industri mineral Indonesia.

Baca Juga: Bahlil Tulis 10 Buku di Tengah Jabatan Menteri, Luhut Sampai Curiga: 'Tidurnya Kapan Gitu'

Baca Juga: Sedang Flu, Prabowo Akui Hampir Tak Hadiri Ultah Bahlil

Namun, ia menegaskan bahwa perjalanan hilirisasi belum selesai. Menurut Bahlil, tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan investasi, tetapi memastikan masyarakat daerah ikut mendapatkan manfaat.

"Hilirisasi sebagai instrumen kesejahteraan, tetapi juga orang daerah harus menjadi tuan di negerinya sendiri," ujar Bahlil.

Perayaan usia ke-50 Bahlil akhirnya bukan sekadar seremoni. Di dalamnya terdapat cerita tentang mobilitas sosial, keberanian mengambil keputusan, dan tantangan memastikan kebijakan besar negara benar-benar dirasakan masyarakat.

Dari Seram Timur menuju pusat pemerintahan, perjalanan Bahlil menjadi gambaran bahwa kepemimpinan sering kali lahir dari proses panjang yang tidak selalu mudah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra