Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BMHS Ungkap Ancaman Baru Industri Kesehatan, Mulai dari Kurs Hingga Inflasi Medis

BMHS Ungkap Ancaman Baru Industri Kesehatan, Mulai dari Kurs Hingga Inflasi Medis Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bundamedik Tbk (BMHS) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum memberikan dampak signifikan terhadap industri kesehatan. Namun, perusahaan mengingatkan fluktuasi kurs dalam jangka panjang berpotensi mendorong kenaikan harga obat dan biaya layanan kesehatan.

Presiden Komisaris BMHS Ivan Rizal Sini mengatakan layanan kesehatan masih menjadi kebutuhan utama masyarakat sehingga permintaan terhadap layanan rumah sakit tetap tumbuh. Meski demikian, tekanan nilai tukar dan inflasi medis tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi pelaku industri.

"Sejauh ini kesehatan tetap menjadi prioritas baik pemerintah maupun industri kesehatan secara umum. Jadi kalau kita lihat, pengaruh secara langsung saat ini mungkin karena masih ada balance, saya pikir masih belum terlalu terasa. Tapi kalau kita lihat long term, pasti dari harga obat, dari harga kesehatan pasti akan mempunyai pengaruh," ujar Ivan kepada Warta Ekonomi usai Bunda Parenting Convention 2026 di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Ivan, hingga kini industri rumah sakit masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Karena itu, fokus perusahaan saat ini adalah menjaga efisiensi operasional untuk meredam dampak kenaikan biaya sekaligus mempertahankan kualitas layanan.

"Saat ini kita melihat kita di industri kesehatan masih pertumbuhan cukup bagus," katanya.

Selain tekanan nilai tukar, rumah sakit juga menghadapi inflasi medis yang masih tinggi. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMHS menerapkan strategi peningkatan produktivitas dan efisiensi agar biaya operasional tetap terkendali.

"Ya itu semua kembali ke efisiensi dan kita mengatur itu dari produktivitas. Jadi semua itu sudah kita pertimbangkan sebagai bagian dari risiko perubahan ekonomi," tutur Ivan.

Strategi efisiensi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja keuangan perseroan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, BMHS melaporkan laba bersih terkonsolidasi sebesar Rp29,7 miliar, meningkat 57% dibandingkan periode sebelumnya.

Di sisi lain, EBITDA perusahaan juga naik 9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp242 miliar.

Direktur Utama BMHS Agus Heru Darjono mengatakan pertumbuhan laba tersebut mencerminkan keberhasilan perusahaan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan efisiensi operasional.

"Di tengah dinamika industri yang terus berkembang, BMHS berhasil menjaga momentum pertumbuhan yang berkualitas. Capaian laba bersih yang tumbuh 57% mencerminkan konsistensi kami dalam mengeksekusi strategi secara disiplin, dari efisiensi operasional, ekspansi layanan kompleks yang bernilai tinggi, hingga penguatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi," ujarnya.

Baca Juga: BPJS Aktif Bakal Jadi Syarat Urus SIM dan Paspor, Ini Penjelasan BPJS Kesehatan

Baca Juga: Kelas Menengah Makan Tabungan, Orang Kaya Justru Borong Dolar

Baca Juga: Rupiah Anjlok! Warga RI Ramai Borong Dolar hingga Rp1.741,46 triliun

Selain menjaga kinerja bisnis, BMHS juga terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui penyelenggaraan Bunda Parenting Convention 2026.

Ivan mengatakan layanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga perlu didukung edukasi dan pendampingan keluarga agar kualitas kesehatan masyarakat dapat terus meningkat.

"Komitmen ini kami wujudkan dengan mengintegrasikan layanan klinis, edukasi, dan pendampingan keluarga, sekaligus aktif membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem pengasuhan," kata Ivan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri