Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Seperti Pep, Mourinho Tegas Tak Mau Menepi dari Sepak Bola: 'Saya Akan Beristirahat Saat Meninggal'

Tak Seperti Pep, Mourinho Tegas Tak Mau Menepi dari Sepak Bola: 'Saya Akan Beristirahat Saat Meninggal' Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jose Mourinho kembali menunjukkan sisi kerasnya saat membicarakan karier sebagai pelatih. Dalam dokumenter Netflix berjudul The Special One, Mourinho menegaskan dirinya tidak tertarik mengambil jeda panjang dari dunia sepak bola.

Pelatih asal Portugal itu bahkan menganggap sabbatical atau masa rehat dari pekerjaan sebagai sesuatu yang tidak ia sukai. Bagi Mourinho, sepak bola bukan sekadar profesi yang bisa ditinggalkan sementara ketika membutuhkan waktu untuk beristirahat.

“Beberapa orang membutuhkan sabbatical, sesuatu yang saya benci. Saya benci kata itu,” ujar Mourinho.

Pernyataan tersebut kemudian disusul dengan kalimat yang menggambarkan betapa kuat keinginannya untuk terus berada di dunia sepak bola. Mourinho menegaskan bahwa dirinya akan tetap bekerja selama masih memiliki kesempatan untuk mengejar prestasi.

“Bagi saya, sabbatical berarti kelemahan. Jangan bicara kepada saya soal sabbatical. Saya tidak pernah membutuhkan istirahat. Saya akan beristirahat ketika saya meninggal,” katanya.

Mourinho memang belum menunjukkan tanda-tanda ingin meninggalkan dunia kepelatihan. Ia mengaku masih menikmati pekerjaannya dan bahkan belum bisa membayangkan kapan dirinya benar-benar berhenti terlibat dalam sepak bola.

“Saya bahkan tidak bisa membayangkan kapan saya akan berhenti terlibat dalam sepak bola. Saya mengatakan 10 tahun lagi, tetapi mungkin lebih dari 10 tahun. Ini menyenangkan,” ucapnya.

Keinginan itu juga berkaitan dengan ambisi Mourinho untuk terus mengoleksi gelar. Setelah meraih berbagai trofi sepanjang kariernya, ia masih memiliki target untuk merasakan kesuksesan di tempat-tempat baru.

“Saya ingin memenangkan lebih banyak gelar. Saya ingin melakukannya di tempat-tempat yang belum pernah saya datangi dan di tempat-tempat yang sudah pernah saya menangkan,” ujarnya.

Bagi Mourinho, sepak bola sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. Ia menggambarkan atmosfer pertandingan dan puluhan ribu suporter di stadion sebagai dunia yang ingin terus ia jalani.

“Dunia saya adalah masuk ke stadion sepak bola dengan 50.000 atau 90.000 suporter. Saya pernah merasakan 100.000 suporter. Itulah dunia saya,” kata Mourinho.

Ia mengaku ada sesuatu yang terasa hilang ketika tidak berada di lingkungan sepak bola. Meski begitu, Mourinho tidak menganggap kecintaannya terhadap sepak bola sebagai sebuah obsesi.

“Tanpa sepak bola, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Namun, saya tidak berpikir ini sebuah obsesi. Saya tidak merasa ini sebuah obsesi,” tuturnya.

Mourinho juga percaya bahwa mencapai level tertinggi justru membuat seorang pelatih semakin sulit meninggalkan dunia tersebut. Menurutnya, ketika sudah berada di level tertentu, keinginan untuk terus bertahan di sana akan semakin besar.

“Ketika Anda mencapai level tertentu, Anda hanya ingin berada di sana selamanya,” ucapnya.

Baca Juga: Pep Guardiola Latih 28 Anak Palestina dari Gaza, Beri Mereka Kesempatan Lupakan Perang

Pandangan Mourinho mengenai sabbatical menarik jika dibandingkan dengan perjalanan Pep Guardiola. Pelatih Manchester City tersebut pernah mengambil jeda setelah meninggalkan Barcelona pada 2012 sebelum kembali ke dunia kepelatihan dengan menangani Bayern Muenchen pada 2013.

Mourinho dan Guardiola sendiri memiliki sejarah persaingan panjang. Keduanya pernah berhadapan dalam rivalitas Barcelona dan Real Madrid di Liga Spanyol, sebelum kembali bersaing di Inggris ketika Guardiola menangani Manchester City dan Mourinho melatih Manchester United.

Namun, kali ini Mourinho tidak secara langsung menyebut Guardiola ketika menyampaikan pandangannya mengenai sabbatical. Pernyataannya lebih menunjukkan perbedaan filosofi tentang bagaimana seorang pelatih memandang jeda dari dunia sepak bola.

Bagi Mourinho, meninggalkan sepak bola untuk sementara bukanlah sesuatu yang ia butuhkan. Selama masih memiliki kesempatan untuk berdiri di pinggir lapangan dan mengejar trofi, The Special One tampaknya belum berniat mengucapkan selamat tinggal.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama