Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Vale Pastikan Konstruksi Smelter Pomalaa Rampung 100%

Vale Pastikan Konstruksi Smelter Pomalaa Rampung 100% Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyatakan konstruksi proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sulawesi Tenggara, telah mencapai 100% dan memasuki tahapan testing and commissioning. 

Penyelesaian konstruksi tersebut menandai berakhirnya tahap mechanical completion pada proyek pengolahan nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) tersebut.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah, mengatakan hingga Juli 2026 atau awal semester II tahun ini, progres konstruksi proyek Pomalaa telah mencapai 100%.

"Konteks mechanical completion sudah selesai, sudah di atas, sudah 100%. Mechanical completion di situ adalah sudah selesai secara mekanik proses konstruksinya. Tinggal testing commissioning," kata Budi di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Menurut dia, mechanical completion merupakan salah satu tahapan penting sebelum fasilitas memasuki fase pengujian dan commissioning. 

Pada tahap tersebut, seluruh peralatan utama telah terpasang dan dilakukan pengecekan untuk memastikan kesiapan mesin sebelum dioperasikan.

"Iya, harus sudah selesai alat dipasang, dicek kan trial-trial, kayak beli mobil baru itu," ujar Budi.

Proyek IGP Pomalaa dikembangkan dengan nilai investasi sekitar US$4,5 miliar. Proyek ini mengintegrasikan kegiatan pertambangan dengan fasilitas pengolahan nikel menggunakan teknologi HPAL untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Pengembangan fasilitas HPAL dilakukan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan yang melibatkan PT Vale Indonesia, Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., dan Ford Motor Co.

Vale memproyeksikan IGP Pomalaa dapat menghasilkan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahun dalam bentuk produk MHP. Sementara itu, kapasitas fasilitas HPAL Pomalaa dalam perencanaan proyek mencapai sekitar 60.000 ton MHP per tahun.

Dari sisi pertambangan, proyek tersebut dirancang dengan kapasitas pengolahan bijih sekitar 11,5 juta wet metric ton (WMT) per tahun.

Selain tambang dan fasilitas HPAL, proyek Pomalaa mencakup pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung, seperti Feed Preparation Plant (FPP), Sulfuric Acid Plant, fasilitas pengolahan air limbah, fasilitas pengelolaan limbah, pembangkit listrik, pelabuhan, serta slurry pipeline yang menghubungkan fasilitas pengolahan.

Teknologi HPAL memungkinkan bijih nikel kadar rendah jenis limonit diolah menjadi produk antara untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik. Bijih tersebut diproses menggunakan tekanan dan temperatur tinggi dengan larutan asam hingga menghasilkan MHP.

Baca Juga: Proyek Tanamalia Vale Masuki Tahap Penting, Cadangan Nikel Disebut Menjanjikan

Baca Juga: Tanggapi Wacana Relaksasi Kuota RKAB, Ini Kata Bos Vale Indonesia

Pengembangan IGP Pomalaa menjadi bagian dari strategi Vale dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya nikel di Indonesia. 

Keterlibatan Huayou dan Ford juga memberikan dimensi strategis terhadap proyek tersebut, masing-masing melalui kapabilitas teknologi pengolahan nikel laterit dan kepentingan di industri kendaraan listrik.

Setelah konstruksi mencapai mechanical completion, proyek kini memasuki tahapan pengujian dan commissioning sebelum fasilitas dapat beroperasi secara penuh.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra