Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Proyek Nikel Vale Tak Terintegrasi dengan IBC, Manajemen Beri Penjelasan

Proyek Nikel Vale Tak Terintegrasi dengan IBC, Manajemen Beri Penjelasan Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjelaskan alasan proyek pengolahan nikel berbasis high-pressure acid leach (HPAL) yang dikembangkan perseroan belum terhubung langsung dengan ekosistem Indonesia Battery Corporation (IBC).

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia, Mateus Sigit H, mengatakan pengembangan proyek HPAL Vale berangkat dari komitmen investasi yang termuat dalam Kontrak Karya perusahaan pada 2018.

Dalam kontrak tersebut, Vale memiliki kewajiban untuk menjalankan investasi di sektor pertambangan dan membangun fasilitas pengolahan.

“Karena kami itu memang ada komitmen di Kontrak Karya sebelumnya. Kemudian dari Kontrak Karya itu ada komitmen-komitmen kami untuk menjalankan investasi tambang maupun processing facilities yang sudah disebutkan dalam Kontrak Karyanya,” ujar Sigit dalam diskusi MediaMIND di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Menurut Sigit, Vale memilih skema usaha patungan atau joint venture dalam menjalankan proyek HPAL karena kebutuhan modalnya yang sangat besar. Selain investasi fasilitas pengolahan, perusahaan juga harus memastikan ketersediaan tambang untuk menopang kebutuhan bahan baku proyek tersebut.

“Kemudian kami paham capital intensity untuk HPAL ini tinggi sekali. Kemudian ada dari sisi PT Vale kami harus ada tersedia untuk mining-nya. Sehingga opsi yang paling feasible bagi kami itu adalah dengan melakukan joint venture,” katanya.

Ada pun saat ini, Vale mengembangkan tiga proyek dalam Indonesia Growth Project (IGP) melalui kemitraan masing-masing, yakni IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Company; IGP Morowali di Bahodopi, Sulawesi Tengah bersama GEM dan EcoPro; serta IGP Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan bersama Zhejiang Huayou Cobalt.

Ketiga proyek tersebut dikembangkan melalui skema usaha patungan untuk membangun tambang dan fasilitas pengolahan nikel berbasis HPAL.

Sigit mengatakan proses pengembangan proyek HPAL Vale terjadi dalam periode yang belum sejalan dengan pembentukan IBC. Saat Vale harus menjalankan komitmen investasinya, IBC disebut belum terbentuk.

“Nah pada saat itu IBC mungkin malah belum di-create, Pak,” ujarnya.

Sebagai informasi, IBC dibentuk pada 2021 untuk membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Sementara itu, MIND ID masuk sebagai pemegang saham Vale sebesar 20% pada 2019 dan kepemilikannya meningkat menjadi 34% pada 2024.

Vale kemudian mengembangkan proyek HPAL melalui kemitraan tersendiri di Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Bahodopi, Sulawesi Tengah; dan Sorowako, Sulawesi Selatan. Ketiga proyek itu dikembangkan untuk menghasilkan produk nikel olahan yang dapat masuk ke rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.

Baca Juga: Harga Sulfur Meroket, Proyek HPAL Vale Kena Tekanan

Baca Juga: Vale Optimistis Capai Target Produksi Nikel Minimal 67.645 Ton di 2026

Meski proyek HPAL telah dikembangkan melalui kemitraan masing-masing, Vale memastikan peluang kerja sama dengan IBC masih terbuka. Perseroan menilai pengembangan hilirisasi tidak akan berhenti di tahap HPAL, terutama karena Vale akan memperoleh hak pembelian atau offtake atas produk dari proyek-proyek tersebut.

Menurutnya, produk dari hak offtake tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan IBC maupun mitra lainnya.

“PT Vale sendiri dengan punya shareholding di HPAL kita nanti akan dapat offtake produk. Itu nanti bisa kita kembangkan lebih lanjut. Bisa kita kerja samakan atau mungkin dengan IBC ataupun partner-partner yang lain,” pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra