Dari Pertumbuhan 6% hingga Defisit 2,4%, ini Target yang Prabowo Bidik dalam RAPBN 2027
Kredit Foto: Ist
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sejumlah target ekonomi dan kebijakan pemerintah dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 dan Nota Keuangan. Penyampaian tersebut dilakukan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan kondisi perekonomian Indonesia, asumsi makro RAPBN 2027, hingga sejumlah program prioritas pemerintah untuk tahun depan.
1. Defisit APBN Juli 2026 Capai 0,91%
Prabowo mengatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai 0,91% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Juli 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global. Pendapatan negara tercatat tumbuh 21,3% secara tahunan (year on year/YoY), sementara belanja negara meningkat 18,2%.
"Belanja kita arahkan untuk menjaga daya beli rakyat, memperkuat pelayanan publik, dan menggerakan ekonomi. Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN terjaga hanya 0,91% terhadap PDB," kata Prabowo.
Ia menyebut kondisi global masih diwarnai ketidakpastian akibat kenaikan harga energi yang dipengaruhi ketegangan geopolitik, suku bunga global yang tinggi, serta tekanan terhadap nilai tukar berbagai negara.
Meski demikian, Prabowo menyatakan ekonomi Indonesia masih mampu bertahan. Pertumbuhan ekonomi pada semester I/2026 mencapai 5,45%, sedangkan inflasi berada pada level 2,88%.
2. Prabowo Singgung Pembaruan Data Ekonomi melalui Sensus
Prabowo juga menyoroti pembaruan data aktivitas ekonomi melalui sensus ekonomi 2026 yang dinilai dapat memengaruhi perhitungan defisit APBN 2027.
Apabila hasil sensus menunjukkan PDB Indonesia lebih besar dibandingkan asumsi pemerintah, rasio defisit terhadap PDB secara otomatis akan menjadi lebih rendah.
Prabowo mengatakan Indonesia telah lebih dari satu dekade belum melakukan rebasing atau pembaruan metode dan tahun dasar dalam menghitung aktivitas ekonomi nasional.
"Saya mendapat laporan, sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing, atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita," ujarnya.
Saat ini pemerintah menjalankan sensus ekonomi hingga akhir Agustus 2026 dengan melibatkan 251.000 petugas yang bekerja di seluruh desa di Indonesia.
"Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026, yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa, perlu kita pastikan berhasil," kata Prabowo.
3. Ekonomi 2027 Ditargetkan Tumbuh 6%
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 6%. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
"Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%," ujar Prabowo.
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah menetapkan sejumlah asumsi dasar ekonomi makro untuk RAPBN 2027.
Inflasi ditargetkan berada pada kisaran 2,5%, sementara tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diperkirakan mencapai 6,9%.
4. Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,4%
Pemerintah menetapkan target defisit APBN 2027 sebesar Rp671,2 triliun atau sekitar 2,4% terhadap PDB.
Target tersebut disusun dengan asumsi pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun.
"Pembiayaan direncanakan sebesar Rp671,1 triliun dengan defisit sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto. Dan ini akan kami usahakan untuk kami tekan lebih kecil," kata Prabowo.
Target defisit tersebut lebih rendah dibandingkan defisit yang ditetapkan dalam UU APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Sementara itu, outlook hingga semester I/2026 memperkirakan defisit dapat melebar menjadi 2,85% terhadap PDB.
Baca Juga: Saham Garuda Indonesia Terbang dari Gocap, Prabowo Ungkap Peluang Balik Untung
5. Belanja Negara 2027 Tembus Rp4.097,2 Triliun
Prabowo menetapkan rencana belanja negara 2027 sebesar Rp4.097,2 triliun. Angka tersebut meningkat Rp254,5 triliun dibandingkan alokasi APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Dengan demikian, belanja negara pada 2027 tumbuh sekitar 6,62% secara tahunan.
Menurut Prabowo, peningkatan belanja tersebut menjadi instrumen untuk menjalankan agenda pembangunan dan perlindungan sosial pemerintah.
Anggaran tersebut akan diarahkan untuk membiayai delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), termasuk kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, serta kesehatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Fajar Sulaiman