Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ketika Semangat Kemerdekaan Berdenyut dari Kilang LNG Donggi Senoro

Ketika Semangat Kemerdekaan Berdenyut dari Kilang LNG Donggi Senoro Kredit Foto: Donggi Senoro LNG
Warta Ekonomi, Banggai -

Pagi 17 Agustus 2026, matahari sudah meninggi ketika kami memasuki fasilitas pengolahan gas alam cair PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) di Pesisir Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Hari itu suasana kilang sedikit berbeda. Di tengah fasilitas industri yang sehari-hari beroperasi mengolah LNG, para pekerja berkumpul mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

Bagi kami yang datang dari Jakarta, mengikuti upacara kemerdekaan di salah satu fasilitas LNG di kawasan timur Sulawesi memberi pengalaman tersendiri. Terlebih, selepas upacara kami melihat langsung aktivitas loading LNG ke Kapal LNG Maleo.

Kapal tersebut membawa sekitar 126 ribu meter kubik LNG yang akan dikirim menuju Futtsu LNG bay, Tokyo. Aktivitas ini terasa istimewa. Maklum, pengapalan gas dari Terminal LNG DSLNG memang tidak dijadwalkan setiap hari melainkan dalam interval per 10 hari.

Dari aktivitas itu kami dapat melihat secara langsung wajah Donggi Senoro sebagai bagian dari rantai industri LNG terkemuka. Namun, di balik operasi kilang dan kapal-kapal yang datang silih berganti, ada cerita lain yang justru lebih dekat dengan masyarakat Banggai: bagaimana perusahaan ini mencoba tumbuh bersama daerah tempatnya berdiri.

Corporate Affairs Director DSLNG, Hanny Midlena, membawa pesan itu dalam sambutannya sebagai pimpinan upacara.

“Kemerdekaan bukan hanya tentang perjuangan masa lalu. Ini juga tentang bagaimana kita melanjutkan perjuangan di masa kini dan ke depan,” katanya.

Menurut Hanny, semangat tersebut diterjemahkan melalui aktivitas perusahaan, mulai dari menjaga keandalan operasi hingga memberikan manfaat kepada para pemangku kepentingan dan menjalankan tanggung jawab sosial serta lingkungan.

“Melalui kerja kita, kita ikut membangun negeri,” ujarnya.

Pesan itu kemudian terasa lebih konkret ketika pembicaraan beralih dari operasi kilang ke orang-orang yang menjalankannya.

Dari Tenaga Berpengalaman ke Putra Daerah

Plant Deputy General Manager DSLNG Sugianto Darsani mengatakan hampir 11 tahun setelah fasilitas kilang beroperasi, sekitar 70 persen karyawan perusahaan merupakan tenaga kerja lokal.

Mereka tidak hanya bekerja pada satu lini. Tenaga lokal telah masuk ke bagian operasi, gas supply facility hingga fungsi relation communication.

Kondisinya berbeda ketika kilang pertama kali berdiri. Saat itu, menurut Sugianto, sumber daya manusia di Sulawesi yang memiliki pengalaman di industri LNG masih terbatas.

DSLNG kemudian merekrut sejumlah tenaga berpengalaman dari luar daerah maupun luar negeri sembari menyiapkan tenaga lokal.

“Nah, kita sekarang sudah sekitar 70 persen lokal,” katanya.

Calon pekerja lokal kemudian menjalani pelatihan, antara lain melalui fasilitas pengembangan kompetensi migas seperti PPSDM Migas Cepu, PT Petrotekno, hingga PT Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Dari proses tersebut, perlahan muncul tenaga-tenaga baru yang mampu menjalankan operasi kilang.

Menariknya, sebagian tenaga yang sebelumnya mendapat pengalaman di Donggi Senoro kemudian melanjutkan karier di luar negeri.

Bagi perusahaan, kondisi itu menciptakan dua sisi. Di satu sisi menunjukkan kemampuan tenaga asal daerah untuk bersaing. Namun di sisi lain, DSLNG kembali harus menyiapkan pengganti.

Karena itu program pengembangan operator dilanjutkan. Sugianto menyebut perusahaan kembali merekrut enam orang pada 2021, enam orang pada 2022 dan enam orang pada 2023.

Regenerasi tersebut juga menjadi penting karena sebagian pekerja senior mulai mendekati masa pensiun.

“Prioritas kami kalau memang bisa memang dari lokal, kita didik,” kata Sugianto.

Operations Trainer DSLNG, Bath Sius Paul Ruitan, turut menjadi bagian dalam proses regenerasi tersebut. 

Pengembangan operator dilakukan agar tenaga yang direkrut tidak sekadar masuk sebagai pekerja, tetapi benar-benar disiapkan untuk memahami dan menjalankan operasi kilang.

Paul kemudian menjelaskan lebih rinci perjalanan pengembangan tenaga operator.

Pada 2015, DSLNG menerima 19 orang untuk dididik menjadi operator kilang. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Sulawesi, mulai dari Luwuk, Palu, Manado, Makassar, Palopo hingga Toraja.

Program pengembangan berlangsung sekitar 18 hingga 24 bulan.

Peserta mengikuti pembelajaran di kelas, presentasi, tes tertulis hingga demonstrasi langsung di lapangan sebelum dinilai layak menjadi operator.

“Kami didik mereka untuk menjadikan mereka operator yang qualified,” tegasnya.

Perjalanan mereka kemudian berkembang jauh melampaui kilang Donggi Senoro.Dari 19 orang yang mengikuti program awal tersebut, Haerul mengatakan saat ini hanya lima yang masih berada di bagian operasi. Sebagian lainnya telah melanjutkan karier ke luar negeri.

DSLNG kemudian melanjutkan regenerasi melalui Operator Program Apprenticeship (OPA).

Pada OPA Batch 1 tahun 2021, enam orang direkrut dan lima di antaranya akhirnya menjadi operator. Mereka berasal dari wilayah Kabupaten Banggai, termasuk Luwuk, Mendono, Moilong dan Toili. Program berlanjut pada 2022 melalui OPA Batch 2 dengan enam peserta dari Kintom, Batui, Kota Luwuk dan Toili.

Setahun kemudian, OPA Batch 3 kembali merekrut enam orang. Seluruh peserta angkatan tersebut kini telah menjadi operator.

Program ini menjadi salah satu upaya DSLNG dalam membangun jalur regenerasi tenaga kerja lokal. Melalui seleksi, pelatihan teknis, pembelajaran keselamatan kerja, hingga praktik langsung di fasilitas kilang, peserta dipersiapkan untuk memiliki kemampuan sesuai standar operasi LNG.

“Untuk operator, baik operator kilang maupun teknisi, itu kami hire dari dalam wilayah,” ujar Haerul.

Dari sinilah keberadaan sebuah kilang mulai memiliki arti yang lebih luas. Industri yang awalnya membutuhkan tenaga berpengalaman dari luar secara perlahan melahirkan operator dari daerah tempat kilang itu sendiri berdiri.

Tidak Berhenti di Pagar Kilang

Jejak Donggi Senoro di Banggai tidak hanya terlihat dari siapa yang bekerja di dalam fasilitas.

CSR Supervisor DSLNG, Berkatdo Saragih, menjelaskan wilayah operasi perusahaan berada di Desa Uso, Kecamatan Batui. Pada awalnya, berdasarkan penilaian AMDAL, terdapat enam desa yang menjadi fokus program sosial dan lingkungan perusahaan.

Dalam perkembangannya, cakupan tersebut meluas hingga 38 desa dan kelurahan di tiga kecamatan dengan populasi hampir 42 ribu orang.

Program sosial DSLNG dijalankan melalui lima pilar intervensi sosial, yakni Local Economic Development (LED), Community Health Services, pendidikan, Community Environment, dan Community Relation.

Di bidang ekonomi, perusahaan mendampingi sektor pertanian, peternakan, perikanan dan UMKM.

Salah satunya Asoka (Asosiasi UMKM Maikama), asosiasi UMKM lokal berbasis perempuan yang mengelola dan menjual berbagai makanan tradisional Kabupaten Banggai. Pendampingan dilakukan mulai dari akses pasar hingga pengurusan PIRT dan label halal.

Pada sektor kesehatan melalui program Community Health Services, DSLNG bekerja sama dengan tiga Puskesmas dan mendampingi enam Posyandu dengan fokus antara lain pencegahan stunting, penyakit menular serta peningkatan pengetahuan ibu hamil.

Bidang pendidikan menjadi salah satu program yang cukup menonjol.

DSLNG memiliki fasilitas bernama Bonua di tiga kecamatan. Dalam bahasa lokal, Bonua berarti rumah besar. Tempat itu diposisikan sebagai ruang bersama yang dapat digunakan masyarakat untuk mengakses Wi-Fi serta berbagai kegiatan pembelajaran.

Anak-anak usia sekolah dasar dapat mengikuti kursus bahasa Inggris, aritmetika sempoa serta Al-Qur'an dan tilawah.

Pendampingan juga dilakukan di delapan sekolah melalui pengembangan pembelajaran berbasis artificial intelligence (AI) dan augmented reality (AR).

Di sektor lingkungan, DSLNG mengembangkan sejumlah program, mulai dari pengolahan limbah organik domestik menjadi pupuk, pusat pembibitan tanaman hingga konservasi burung maleo melalui Maleo Conservation Center, fasilitas konservasi ex-situ untuk satwa endemik Sulawesi tersebut.

Selain program lingkungan, DSLNG juga mengembangkan Social Performance Index, sebuah sistem pengukuran dan pemantauan kinerja sosial perusahaan untuk memastikan program berjalan secara terkelola.

Skalanya tidak kecil. Berkatdo menyebut, sepanjang 2025 DSLNG mendampingi 22 kelompok petani dengan lebih dari 25 hektare lahan, 43 nelayan, serta 124 perempuan pelaku UMKM. Lebih dari 800 pelajar menjadi penerima manfaat program sosial perusahaan.

Program beasiswa DSLNG Gemilang Scholarship juga diberikan kepada mahasiswa dari tiga kecamatan yang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Luwuk dan Universitas Tompotika Luwuk.

Pada tahun kedua, jumlah penerima telah mencapai 40 mahasiswa. Tahun ini, jumlah tersebut direncanakan bertambah hingga total 80 mahasiswa. Hampir 2.000 ibu dan anak juga tercatat menjadi penerima manfaat program kesehatan.

“Donggi Senoro ini hidup di tengah-tengah masyarakat,” kata Berkatdo.

Kalimat itu barangkali menjadi gambaran paling sederhana dari apa yang terlihat sepanjang kunjungan hari itu.

Dari lapangan upacara, ruang kontrol, proses regenerasi operator hingga program yang menjangkau desa-desa, keberadaan Donggi Senoro di Banggai tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak LNG yang keluar dari kilangnya.

Ukurannya juga terlihat dari sejauh mana keberadaan industri itu meninggalkan kemampuan, kesempatan, dan manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekelilingnya.

Di pagi kemerdekaan itu, cerita tentang sebuah kilang akhirnya bukan semata tentang gas yang dikirim ribuan kilometer menuju negara lain.

Ada cerita yang justru tumbuh beberapa kilometer dari pagar kilang: tentang orang-orang lokal yang kini menjalankannya dan masyarakat yang hidup berdampingan dengannya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra