Kredit Foto: BPMI
Pemerintah Indonesia masih memilih menangani sendiri penanganan korban gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah jumlah korban yang terus didata, pemerintah menegaskan belum membuka opsi menerima bantuan dari luar negeri karena kebutuhan di lapangan dinilai masih dapat ditangani.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan kondisi di sejumlah wilayah terdampak. Berdasarkan laporan yang diterima pemerintah, kapasitas penanganan bencana saat ini masih dinilai mencukupi.
"Belum ya, nanti kita lihat. Karena berdasarkan laporan juga kami kebetulan juga setiap hari memonitor perkembangan di lapangan, semua masih bisa kita tangani gitu," kata Prasetyo, di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (17/8/2026).
Baca Juga: Eks Karyawan Sritex Teriak Belum Merdeka: Banyak Teman Kami Meninggal dalam Penantian
Prasetyo memastikan pemerintah masih sanggup memenuhi kebutuhan logistik bagi para pengungsi yang terdampak gempa. Selain persoalan kebutuhan dasar, pemerintah juga mulai mempersiapkan langkah pemulihan tempat tinggal warga.
Menurut dia, perbaikan bangunan akan dilakukan melalui pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap). Persiapan untuk kebutuhan tersebut pun disebut sudah mulai dilakukan.
"Itu pun sudah dalam proses diidentifikasi," ujarnya.
Diketahui, skala bencana yang dihadapi NTT terbilang besar. Gempa bermagnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB.
Baca Juga: Anak Buah Prabowo Tegaskan Rakyat Aceh Itu NKRI, yang Ricuh Hanya...
Hingga Senin (17/8) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 68 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Data itu masih berasal dari proses identifikasi korban di sejumlah wilayah terdampak.
"Data yang kami peroleh hingga saat ini (korban jiwa) sebanyak 68 jiwa," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers, dikutip dari Antara.
Berdasarkan data BNPB, korban jiwa tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 26 jiwa, disusul Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 24 jiwa.
Sementara itu, Kabupaten Nagekeo mencatat 8 korban jiwa, Kabupaten Sikka 4 jiwa, Kabupaten Ende 2 jiwa, Kabupaten Manggarai Barat 2 jiwa, dan Kabupaten Ngada 2 jiwa.
Tak hanya menimbulkan korban meninggal dunia, gempa berkekuatan M 7,7 tersebut juga menyebabkan ratusan orang mengalami luka-luka. BNPB mencatat sebanyak 213 orang mengalami luka-luka.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: