Kredit Foto: Dola/Wahyu Pratama
Pep Guardiola mengaku membutuhkan waktu istirahat dari sepak bola setelah karier panjang sebagai pelatih, termasuk satu dekade menangani Manchester City.
Pelatih asal Spanyol berusia 55 tahun itu menyatakan ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan ayahnya yang berusia 95 tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Guardiola dalam podcast OKX. Ia mengaku belum mengetahui kapan akan kembali ke dunia kepelatihan setelah meninggalkan Manchester City.
"Ayah saya berusia 95 tahun, saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya dan keluarga saya,” kata Guardiola.
Ia juga mengungkap nasihat terbaik dari sang ayah hingga saat ini: selalu menjadi orang baik dan memperlakukan orang lain dengan baik.
"Jadilah orang yang baik, selalu bersikap baik kepada orang lain. Itu nasihat terbaik yang pernah saya terima,” ujarnya.
Keputusan Guardiola untuk beristirahat datang setelah perjalanan karier yang sangat sukses. Ia telah memenangkan 41 gelar, menempatkannya sebagai pelatih dengan koleksi trofi terbanyak kedua dalam sejarah sepak bola setelah Sir Alex Ferguson.
Guardiola menegaskan saat ini tidak mengejar tambahan gelar. Ia mengaku menolak kesempatan menangani tim nasional Italia dan belum merasa rindu untuk kembali ke sepak bola.
Prioritasnya kini adalah olahraga, anak-anak, saudara, serta keluarganya. Baginya, waktu bersama keluarga tidak dapat digantikan oleh pencapaian di lapangan.
Spekulasi Melatih Timnas Indonesia dan Realitasnya
Di tengah kabar tersebut, muncul grup Facebook bernama “Dukung Pep Guardiola melatih Timnas Indonesia”. Kemunculan grup itu memicu spekulasi di media sosial mengenai kemungkinan Guardiola menjadi pelatih Timnas Indonesia.
Namun, peluang tersebut saat ini praktis sangat kecil. Wacana itu lebih banyak muncul sebagai candaan netizen maupun respons terhadap opini sejumlah figur sepak bola lokal dan pengamat.
Salah satu faktor utama adalah standar Guardiola. Ia sebelumnya pernah menyatakan bahwa jika menangani tim nasional, dirinya ingin melatih negara yang memiliki peluang bersaing di turnamen besar seperti Piala Dunia atau Piala Eropa.
Faktor finansial juga menjadi kendala. Guardiola merupakan salah satu pelatih dengan nilai kontrak tertinggi di dunia.
Bahkan Italia, yang memiliki kekuatan sepak bola dan sumber daya finansial jauh lebih besar, sempat menghadapi persoalan terkait nilai kontrak ketika mencoba mendekatinya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: