Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pakar: Fatimah Memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi Justru Merusaknya

Pakar: Fatimah Memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi Justru Merusaknya Kredit Foto: Instagram/fathimahzzhr
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pakar hukum tata negara sekaligus eks Wamenkumham Denny Indrayana kembali melontarkan kritik tajam terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Kali ini, Denny membandingkan sosok Gibran dengan Fatimah Azzahra, Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), yang belakangan vokal menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Denny mengaku tidak mengenal Fatimah secara pribadi. Namun, sikap kritis mahasiswa tersebut terhadap kekuasaan membuatnya merasa memiliki semangat perjuangan yang sama. Ia menyoroti keberanian Fatimah ketika berhadapan dengan polisi saat demonstrasi menuju Bundaran Hotel Indonesia.

"Fatimah saya tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bertemu. Tapi hari-hari ini saya melihat kami bersatu dalam semangat perlawanannya. Dalam sikap kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Ketika berdebat dengan polisi yang menghalangi jalan mereka berdemonstrasi ke Bundaran Hotel Indonesia, yang sudah tidak ada lagi hotelnya. Lihatlah Bunderan HI, semua adalah hotel asing di sana. Nama Indonesia, tidak lagi ada di sana," tulis Denny di akun X.

Baca Juga: PSI: Denny Indrayana Harusnya Malu Karena Berstatus Tersangka, Kalau Ijazah Gibran Itu Tuduhan

Dari situ, Denny kemudian menyampaikan penilaian pribadinya mengenai Fathimah dan Gibran. Ia bahkan secara terang-terangan menyebut Fathimah sebagai harapan, sementara Gibran tidak.

"Bagi saya Fatimah adalah harapan. Gibran tidak. Maafkan saya menyatakan apa adanya. Banyak yang menasehati saya untuk lebih diplomatis. Tapi saya rasa berbicara apa adanya akan lebih sampai pesan moralnya," ujarnya.

"Fatimah memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi justru merusaknya. Membaca artikel “Bangsaku” dari Fatimah memberikan siraman air segar nasionalisme ke dalam tenggorokan kering kami," lanjut dia. 

"Mendengar beberapa menit Fatimah dengan orasinya, saya rasakan lebih punya kekuatan perjuangan dibandingkan pidato berjam-jam Presiden Prabowo yang cenderung membosankan, dan tidak jarang salah hitung penjumlahan, atau salah baca angka, hingga menjadikan pengupas bawang menjadi orang kaya baru di Indonesia," katanya.

Baca Juga: Mahfud MD: Zaman Orde Baru yang Katanya Penuh KKN Jauh Loh Lebih Bagus dari Sekarang

Bagi Denny, kekuatan sebuah gerakan tidak hanya terletak pada lantangnya suara ketika menyampaikan kritik. Ia menilai kejujuran dan konsistensi antara ucapan dengan tindakan menjadi hal yang jauh lebih penting.

"Ketika Fathimah menyampaikan teriakannya, yang kita dengar adalah perjuangan yang tulus tentang Indonesia antikorupsi. Tentang bangsa yang berjuang untuk bersih dari keculasan pemilu, dari kecurangan pengadaan alutsista, dan dari korupsi gizi dan koperasi. Kuncinya adalah pada kejujuran, pada konsistensi, pada kesamaan antara orasi dan aksi," sebutnya.

Denny kemudian kembali menyeret polemik ijazah SMA Gibran ke dalam kritiknya. "Sedikit saja terlihat ada warna kemunafikan, maka kekuatan dan wibawa pesan itu pasti menghilang. Sebagaimana ijazah SMA atau setara Mas Gibran yang gaib bin raib hingga kini," sambung dia.

Di akhir pernyataannya, Denny juga mempertanyakan posisi Presiden Prabowo Subianto di tengah berbagai persoalan yang menurutnya sedang dihadapi Indonesia. Ia mengaitkannya dengan sejarah pergerakan mahasiswa yang disebutnya memiliki peran penting dalam sejumlah perubahan politik di Indonesia.

"Pertanyaannya, ada dimana kita? Ada dimana saya dan Presiden Prabowo? Kalau Fatimah dan semua rekan mahasiswa dan para pemuda, mereka jelas posisinya. Sejarah telah membuktikan, bahwa ketulusan perjuangan mahasiswa dan kaum muda adalah penyelamat bangsa sejak Rengasdengklok hingga lahirnya reformasi 1998. Ada dimana anda, Bapak Presiden Prabowo? Apakah ada di pusaran kejujuran, atau masuk jurang kemunafikan?" tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri