Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Disangka! Wamenkomdigi Sebut Lulusan Filsafat Bisa Bergaji Tinggi di Era AI

Tak Disangka! Wamenkomdigi Sebut Lulusan Filsafat Bisa Bergaji Tinggi di Era AI Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai lulusan filsafat berpotensi semakin dibutuhkan dan mendapat bayaran tinggi seiring meluasnya penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Menurut Nezar, perkembangan AI yang semakin masuk ke berbagai aspek kehidupan membuat pertimbangan etika menjadi semakin penting. Terlebih, teknologi tersebut mulai digunakan untuk membantu pengambilan keputusan hingga membangun hubungan dengan manusia.

“Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua decision making yang dibuat oleh Artificial Intelligenceakan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat,” ujar Nezar dalam keterangannya.

Nezar mengatakan perkembangan AI juga memunculkan unintended consequences, yakni konsekuensi yang tidak diinginkan maupun tidak terduga dari penggunaan teknologi.

“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” katanya.

Menurut dia, AI kini tidak lagi sekadar menjadi instrumen teknologi. Pemanfaatannya telah meluas ke berbagai sektor, mulai dari ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian hingga kehidupan sosial.

Perluasan penggunaan tersebut membuat keputusan yang melibatkan AI memiliki dimensi etika yang perlu diperhatikan. Kemampuan AI dalam mengolah data, melakukan prediksi, dan menghasilkan keputusan dinilai perlu diimbangi kemampuan manusia dalam mempertanyakan nilai, tujuan, serta dampak dari keputusan tersebut.

Nezar menilai kondisi tersebut membuat ilmu filsafat semakin relevan. Dia menyebut perusahaan teknologi global mulai membutuhkan ahli filsafat untuk menghadapi persoalan etika yang muncul dari pengembangan dan penggunaan AI.

Menurut Nezar, AI memang mampu menjelaskan berbagai pemikiran filsafat. Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi filosofis secara menyeluruh dan kritis.

“Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” tegas Nezar.

Dia mengatakan kemampuan berpikir kritis dan reflektif menjadi semakin penting ketika AI mulai mengambil peran dalam berbagai keputusan yang berdampak terhadap manusia.

Tantangan etika, lanjut Nezar, berpotensi semakin kompleks ketika teknologi berkembang menuju embodied AI atau physical AI, seperti robot humanoid yang dapat berinteraksi langsung dengan manusia.

Dengan dukungan large language model (LLM), robot dapat melakukan percakapan, mengenali lawan bicara, melakukan profiling, hingga membangun hubungan yang disebut sebagai synthetic relations.

Menurut Nezar, perkembangan tersebut dapat membuat hubungan manusia dengan mesin semakin dekat dan berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan seseorang terhadap teknologi.

“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” ungkapnya.

Baca Juga: Komdigi Kaji Aturan Pengantaran, Soroti Margin Sehat demi Bisnis Aplikator Berkelanjutan

Baca Juga: Komdigi Ungkap AI Bisa Jadi Pelaku Serangan Siber, Bukan Lagi Hacker

Baca Juga: Komdigi Dorong Kerja Sama Digital Indonesia-Swiss untuk Perkuat Ekonomi

Karena itu, Nezar menilai pembahasan mengenai AI tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknologi. Manusia juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif untuk menentukan bagaimana AI seharusnya digunakan serta arah perkembangannya.

“Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat,” pungkas Nezar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri