Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (20/8/2026) dengan penguatan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 24,10 poin atau 0,37% ke level 6.525,69.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat mencapai level tertinggi 6.551,95 dan menyentuh level terendah 6.507,43.
Aktivitas perdagangan juga cukup ramai. Nilai transaksi di BEI mencapai Rp17,47 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 59,12 miliar saham.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 319 saham menguat, 294 saham melemah, dan 178 saham lainnya bergerak stagnan.
Dalam riset hariannya, Phintraco Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (21/8/2026), selama indeks mampu bertahan di atas level 6.500.
"Jika level tersebut mampu bertahan, peluang penguatan indeks dinilai masih terbuka," tulis Phintraco Sekuritas.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko dari pasar global, terutama kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Kamis (20/8/2026). Pelemahan tersebut terjadi seiring kembali naiknya yield US Treasury.
Menurut Phintraco Sekuritas, kenaikan yield dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya pinjaman perusahaan. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi aliran dana investor dari aset berisiko, termasuk saham.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjutkan Kenaikan jika Bertahan di Atas 6.500
Baca Juga: Saham Emiten Haji Isam Ini Dipantau BEI Usai Lonjakan Tajam
Baca Juga: BEI Suspensi 5 Saham, WIKA hingga AGAR Kena Setop
Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704% pada Kamis (20/8).
Sementara itu, dari pasar komoditas, harga minyak mentah justru menguat lebih dari 2%. Di sisi lain, harga emas spot turun tipis 0,1% ke level US$4.516 per troy ounce.
Pelaku pasar domestik juga mencermati rencana perubahan sejumlah aturan perdagangan di BEI.
Salah satunya adalah rencana penurunan batas minimum harga saham di pasar reguler dan pasar tunai, dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1 per saham.
BEI juga berencana menghapus sejumlah kriteria pada Papan Pemantauan Khusus serta menyesuaikan klasifikasi batas auto rejection.
"Perubahan aturan tersebut berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan sejumlah saham di pasar domestik," ungkap Phintraco Sekuritas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: