Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

MBG Ubah Kebiasaan Siswa SD di Sulteng, Kini Mulai Paham Gizi

MBG Ubah Kebiasaan Siswa SD di Sulteng, Kini Mulai Paham Gizi Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dirasakan siswa sekolah dasar di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, bukan hanya sebagai pemenuhan makanan di sekolah, tetapi juga membantu kesiapan mengikuti pembelajaran dan mengurangi kekhawatiran orang tua terkait kebutuhan makan anak.

Pengalaman tersebut disampaikan tiga siswa, yakni Gayatri Kalyani Taha dari SDN 1 Ratolindo, Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una, dan Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota.

Gayatri mengatakan kehadiran MBG membuat orang tuanya tidak lagi terlalu khawatir ketika dirinya berangkat sekolah tanpa membawa bekal atau uang jajan.

"Orang tua saya sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kami kelaparan di sekolah karena sudah ada program Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada kami," ujarnya.

Raffi juga mengaku kini lebih jarang membawa uang jajan karena kebutuhan makan di sekolah telah mendapat dukungan melalui program tersebut. Menurutnya, MBG sekaligus membuatnya lebih memahami kandungan gizi dalam makanan.

Ia mulai mengenali nasi sebagai sumber karbohidrat, daging sebagai sumber protein, sayur sebagai sumber vitamin, serta buah sebagai sumber serat.

"Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah paham bahwa makanan itu banyak manfaat gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah yang sebelumnya kurang suka," kata Raffi.

Sementara itu, Rizat melihat perubahan pada kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Sebelum MBG berjalan, ia kerap melihat sejumlah temannya kurang fokus karena belum sarapan.

Sebagian orang tua harus berangkat bekerja lebih pagi sehingga tidak sempat menyiapkan sarapan atau bekal bagi anak.

"Setelah kami mendapatkan program ini, saya melihat teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus," tutur Rizat.

Meski demikian, Rizat menilai asupan gizi tidak secara otomatis membuat siswa menjadi lebih pintar atau berprestasi. Menurutnya, hasil belajar tetap membutuhkan kemauan belajar dan dukungan orang tua.

Gayatri dan Raffi juga merasakan pengaruh makanan terhadap aktivitas belajar. Gayatri mengaku lebih fokus dan bersemangat mengikuti pelajaran setelah makan, sedangkan Raffi menilai kondisi tubuh yang sehat membantu siswa berkonsentrasi.

Di sisi lain, ketiga siswa memberikan sejumlah masukan terhadap pelaksanaan MBG, terutama terkait variasi menu dan ketepatan waktu distribusi.

Raffi mengatakan menu yang diberikan secara umum sudah baik, tetapi selera setiap siswa berbeda. Ada siswa yang lebih menyukai ayam dibandingkan ikan, tempe dibandingkan tahu, atau belum terbiasa mengonsumsi sayur dan telur.

Ia mengaku tetap berusaha menghabiskan makanan yang diberikan agar kebutuhan gizi terpenuhi dan makanan tidak terbuang.

Gayatri juga mengatakan ada menu yang belum sesuai dengan selera siswa. Namun, ia memilih tetap menghargai makanan yang diterima dan berharap variasi serta rasa makanan terus diperbaiki agar siswa tidak merasa bosan.

Rizat menilai program MBG tetap harus berorientasi pada pemenuhan gizi, bukan sekadar mengikuti makanan yang disukai anak. Namun, variasi pengolahan bahan makanan dapat dilakukan agar menu tidak monoton.

Ia juga menyoroti pentingnya ketepatan waktu distribusi. Menurutnya, makanan yang tiba tepat waktu akan tetap hangat dan segar ketika disantap.

Selain variasi dan distribusi, Rizat menilai siswa perlu mendapatkan edukasi sederhana mengenai kandungan makanan yang mereka konsumsi. Sekolah dan pemerintah juga dinilai perlu membuka ruang masukan dari guru, orang tua, dan siswa.

Persoalan sisa makanan turut menjadi perhatian. Gayatri mengaku sedih ketika makanan dibuang karena di balik setiap porsi terdapat tenaga petugas yang menyiapkannya. Raffi juga masih melihat sejumlah siswa tidak menghabiskan makanan karena persoalan selera.

Ketiganya menilai variasi menu perlu disertai pembiasaan agar siswa menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya.

Rizat juga menceritakan adanya siswa yang menyisakan sebagian makanan untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan makanan yang diterima di sekolah dapat memberi manfaat di luar jam belajar, terutama bagi anak dari keluarga yang membutuhkan.

Ketiga siswa berharap program MBG terus dilanjutkan dengan perbaikan. Rizat secara khusus meminta pembangunan dapur pelayanan diperluas hingga wilayah terpencil.

"Saya ingin MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di daerah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis," tutup Rizat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri