- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bukan Soal Cadangan, Pemanfaatan Gas Domestik Butuh Infrastruktur dan Kepastian Pasar
Kredit Foto: Istimewa
Potensi gas Indonesia yang besar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik karena masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kesenjangan lokasi sumber gas dengan pusat permintaan, struktur harga, hingga kepastian pasar dan investasi.
Pelaku industri hulu migas menilai optimalisasi gas domestik membutuhkan pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan memastikan pengembangan lapangan, pembangunan infrastruktur, serta penyerapan pasar berjalan dalam satu ekosistem.
Praktisi Migas, Benny Lubiantara, mengatakan keberadaan sumber daya dan cadangan gas belum cukup tanpa dukungan infrastruktur dan pasar yang mampu menjamin gas dapat diproduksi, disalurkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Driver-nya adalah ketersediaan infrastruktur dan market yang pada akhirnya akan menentukan keekonomian proyek. Karena itu, tren eksplorasi global saat ini juga semakin mempertimbangkan kedekatan prospek dengan infrastruktur yang sudah tersedia atau yang dapat dikembangkan secara ekonomis. Pendekatan Infrastructure-Led Exploration menjadi salah satu strategi yang relevan untuk mempercepat monetisasi temuan gas,” ujar Benny, Rabu (12/8/2026).
Menurut Benny, pengembangan eksplorasi, terutama di wilayah yang belum banyak dieksplorasi (unexplored basins), membutuhkan dukungan kebijakan yang mampu meningkatkan keekonomian proyek.
“Untuk mendorong eksplorasi secara masif, khususnya di wilayah unexplored basins, diperlukan terobosan fiskal dan kebijakan yang mampu meningkatkan keekonomian proyek. Fiskal memang bukan satu-satunya faktor. Kemudahan berusaha, kepastian regulasi, ketersediaan infrastruktur, dan prospek pasar juga sangat menentukan keputusan investasi. Karena itu, seluruh faktor tersebut perlu dilihat sebagai satu ekosistem,” terang Benny.
Ia menilai kebijakan gas domestik juga harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen dan keberlanjutan investasi produsen. Harga gas perlu tetap kompetitif bagi industri pengguna, namun tetap memberikan keekonomian yang memadai bagi pengembangan lapangan dan investasi infrastruktur.
“Gas harus memiliki harga yang kompetitif bagi industri pengguna, tetapi pada saat yang sama memberikan keekonomian yang memadai bagi produsen dan investor. Tanpa keseimbangan tersebut, pengembangan lapangan baru dan investasi infrastruktur berisiko tertunda,” katanya.
Sementara itu, Praktisi Migas sekaligus mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo menilai pembangunan infrastruktur menjadi faktor kunci agar gas dari wilayah produksi dapat menjangkau pusat permintaan secara ekonomis.
Menurutnya, jaringan pipa masih menjadi tulang punggung distribusi gas, tetapi wilayah yang belum memungkinkan secara geografis maupun keekonomian membutuhkan alternatif infrastruktur lain.
“Jaringan pipa tetap menjadi tulang punggung distribusi gas, tetapi untuk wilayah yang secara geografis maupun keekonomian belum memungkinkan dibangun jaringan pipa, CNG, mini LNG, LNG dan fasilitas regasifikasi dapat menjadi alternatif. Yang penting, seluruh infrastruktur tersebut dirancang terintegrasi dengan sumber gas dan pasar pengguna,” ujar Hadi.
Hadi menambahkan, kepastian pasar menjadi faktor penting dalam mendorong pembangunan infrastruktur gas. Kepastian pembeli, volume penyerapan, formula harga, dan kontrak jangka panjang diperlukan agar pelaku usaha maupun lembaga pembiayaan memiliki dasar yang kuat dalam mengambil keputusan investasi.
“Gas tidak cukup hanya ditemukan dan diproduksi. Gas harus dapat dimonetisasi dan sampai kepada pengguna dengan biaya yang kompetitif. Karena itu, kebijakan, investasi, infrastruktur dan pasar harus bergerak dalam satu desain yang terintegrasi,” ungkap Hadi.
Menurut Hadi, sinergi antara sektor hulu dan hilir diperlukan agar lebih banyak potensi gas dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.
“Sinergi antara hulu dan hilir menjadi keharusan. Ketika infrastruktur dan pasar domestik disiapkan secara terintegrasi, semakin besar gas yang dapat dimanfaatkan di dalam negeri. Ke depan, kita perlu mendorong agar 80–90 persen potensi gas yang memungkinkan secara teknis dan ekonomis dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Hadi.
Baca Juga: 4.545 Rumah Terlayani Jargas, PGN Dorong Gas Bumi Jadi Energi Penggerak Ekonomi Sleman
Baca Juga: Purbaya Pastikan Skema Dividen Danantara untuk Cadangan APBN Diputuskan Tahun Ini
Baca Juga: Ekspor RI Naik 8,84% pada Juni 2026, Ditopang Kinerja Nonmigas
Pembahasan mengenai persoalan harga, kesiapan infrastruktur, kepastian penyerapan, serta keberlanjutan keekonomian proyek gas akan menjadi salah satu fokus dalam Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK) 2026.
Forum tersebut akan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha hulu migas, penyedia infrastruktur dan midstream, pembeli gas, pengguna akhir, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membangun perspektif bersama dalam pengembangan pasar gas domestik.
Melalui FOREK 2026, para pemangku kepentingan mendorong agar tantangan gas Indonesia tidak hanya dilihat dari sisi ketersediaan cadangan, tetapi juga bagaimana gas dapat dialokasikan, disalurkan, terserap, dan dikomersialisasikan secara optimal untuk mendukung ketahanan energi nasional serta keberlanjutan investasi migas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: