Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Isu Dedi Mulyadi Pindah ke PSI Bikin Gerindra Heran, Ini Alasannya

Isu Dedi Mulyadi Pindah ke PSI Bikin Gerindra Heran, Ini Alasannya Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Isu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan meninggalkan Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membuat internal Gerindra mempertanyakan dasar kabar tersebut. Wakil Ketua Gerindra Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna mengaku belum melihat tanda-tanda Dedi akan meninggalkan partai yang kini menaunginya.

Buky mengatakan dirinya tidak mengetahui data maupun variabel yang menjadi dasar munculnya isu Dedi Mulyadi alias Demul atau KDM akan hijrah ke PSI. Menurutnya, Dedi justru telah memberikan pernyataan tegas mengenai dukungannya terhadap Presiden Prabowo Subianto.

"Saya tidak tahu data dan variabel apa yang menduga-duga Dedi Mulyadi (Demul) mau hijrah ke PSI. Namun, ada pernyataan sanggahan secara tegas bahwa Demul membantah hal tersebut. Dalam pernyataannya, ia menghendaki Prabowo untuk memimpin Indonesia," kata Buky, Senin (23/8).

Menurut Buky, posisi Dedi di Gerindra saat ini juga menjadi alasan mengapa isu tersebut dinilai janggal. Dedi bukan hanya tercatat sebagai kader Gerindra, tetapi juga menjabat sebagai Dewan Pembina Gerindra Pusat.

"Bagaimanapun, ia adalah kader Gerindra dan menjabat sebagai Dewan Pembina di Gerindra Pusat. Ini menunjukkan kualitas moral dan etika yang kuat. Jadi, beberapa kali saya bertemu dengan Demul, saya belum melihat tanda-tanda ke arah sana. Saya juga merasa aneh dengan keriuhan ini," ujarnya.

Buky menilai tidak ada alasan kuat untuk mengaitkan aktivitas Dedi di luar Jawa Barat dengan rencana perpindahan partai. Menurutnya, Dedi memang memiliki karakter sebagai pemimpin yang gemar turun langsung ke lapangan untuk melihat sekaligus membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Aktivitas Dedi tersebut belakangan ikut dikaitkan dengan isu kepindahannya ke PSI. Salah satunya ketika Dedi melakukan safari ke Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah wilayah tersebut dilanda gempa besar pada pekan sebelumnya.

Namun, Buky menilai kegiatan tersebut bukan bagian dari upaya Dedi mencari simpati politik. Dia mengatakan aktivitas kemanusiaan tersebut lebih mencerminkan karakter pribadi Dedi yang terbiasa merespons persoalan secara langsung.

Baca Juga: Lihat Dedi Mulyadi Gercep Turun Sampai ke NTT, Ada yang Berkomentar: Enggak Kapok-Kapoknya

"Dia aktif berkeliling dan bukan tipikal pemimpin di belakang meja. Saya melihat dia memang sosok yang seperti itu. Dia adalah sosok yang perasaannya mudah tersentuh-dia sendiri sering menyampaikan bahwa dirinya mudah tersentuh-lalu mencoba menyelesaikan masalah tersebut," kata Buky.

Menurutnya, bantuan kepada masyarakat di daerah lain juga tidak hanya dilakukan Dedi. Buky menyebut sejumlah gubernur, termasuk dari DKI Jakarta dan Jawa Timur, turut memberikan bantuan ketika terjadi persoalan kemanusiaan.

"Beberapa gubernur juga memberikan bantuan, seperti dari DKI Jakarta atau Jawa Timur, tetapi itu murni atas dasar aspek kemanusiaan," sambungnya.

Karena itu, Buky meminta aktivitas Dedi di luar Jawa Barat tidak langsung ditafsirkan sebagai langkah politik untuk mencari kendaraan baru. Terlebih, hingga kini dirinya mengaku belum melihat indikasi Dedi akan meninggalkan Gerindra untuk bergabung dengan PSI.

Dedi Mulyadi sendiri memiliki perjalanan politik yang cukup panjang sebelum bergabung dengan Gerindra. Gubernur Jawa Barat tersebut sebelumnya merupakan kader Partai Golkar dan pernah menduduki posisi pimpinan partai tersebut, termasuk di tingkat Jawa Barat.

Meski demikian, untuk isu kepindahan Dedi ke PSI, Gerindra menilai belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan hal tersebut. Posisi Dedi sebagai kader sekaligus Dewan Pembina Gerindra Pusat dan pernyataannya mengenai dukungan kepada Prabowo menjadi alasan internal partai masih melihatnya tetap berada di jalur Gerindra.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama