Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Waktu Budi Arie Ngomong Prabowo Berakhir Sebelum 2029, Harusnya Jokowi Jangan Cuma Diam

Waktu Budi Arie Ngomong Prabowo Berakhir Sebelum 2029, Harusnya Jokowi Jangan Cuma Diam Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat Komunikasi Politik, Emrus Sihombing, menyoroti tajam sikap eks Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Hal ini berkaitan dengan momen saat Jokowi hanya terdiam ketika Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, melontarkan wacana kontroversial terkait kemungkinan dipercepatnya Pemilu 2029.

Sikap diam Jokowi tersebut terekam dalam sebuah video yang kini viral di media sosial. Dalam tayangan itu, Budi Arie terlihat mengajak audiens untuk tidak terpaku pada skenario politik konvensional dan menyinggung potensi terjadinya percepatan pemilu, sementara Jokowi yang duduk tepat di sampingnya tidak memberikan respons apa pun.

Menurut Emrus, dalam kapasitasnya sebagai mantan kepala negara dan tokoh politik, Jokowi seharusnya tidak membiarkan pernyataan tersebut bergulir begitu saja tanpa teguran.

"Menurut hemat saya, pada situasi komunikasi politik tanpa solusi yang sedang terjadi saat ini di ruang publik, Jokowi tidak cukup hanya mendengarkan dan tidak memberikan respons," tegas Emrus.

Ia menambahkan bahwa Jokowi seharusnya mengambil sikap aktif untuk meredam potensi kegaduhan. Kehebohan ini bermula dari analisis pribadi Budi Arie di hadapan sebuah forum relawan. Dalam video tersebut, Budi secara terang-terangan menceritakan bisikannya kepada Jokowi terkait insting politiknya.

"Saya sudah bisik ke Pak Jokowi. 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?' Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" ungkap Budi Arie dalam cuplikan video yang beredar.

Lebih lanjut, Budi Arie mengaitkan pandangannya itu dengan sejumlah anomali sosial-ekonomi belakangan ini. Secara mengejutkan, ia bahkan menyandingkan eskalasi sosial—seperti maraknya aksi demonstrasi tandingan—dengan situasi memanas menjelang pecahnya Reformasi 1998. Pernyataan inilah yang kini memicu perdebatan panas di ruang publik.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat