Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Waralaba Lokal Mulai Ungguli Brand Asing, Pemerintah Dorong Bisnis Indonesia Go Global

Waralaba Lokal Mulai Ungguli Brand Asing, Pemerintah Dorong Bisnis Indonesia Go Global Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peta industri waralaba di Indonesia mulai berubah. Jika satu dekade lalu bisnis waralaba masih banyak didominasi merek asing, kini pelaku usaha lokal mulai menunjukkan posisi yang lebih kuat.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan mengungkapkan, perubahan tersebut terlihat dari komposisi pendaftaran waralaba di Indonesia. Pada 2016, sekitar 70% pendaftaran waralaba masih didominasi merek asing, sementara porsi lokal hanya sekitar 30%.

Kondisinya mulai berbalik pada 2026. Iqbal menyebut jumlah pendaftaran waralaba asing tercatat sebanyak 169, sedangkan waralaba lokal mencapai 163. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya pelaku usaha dalam negeri membangun bisnis dengan konsep waralaba.

“Kalau dibandingkan 10 tahun lalu, jumlah waralaba dari luar negeri jauh lebih tinggi. Sekarang angkanya sudah berbalik,” ujar Iqbal dalam pembukaan IFRA 2026 di ICE BSD City, Tangerang.

Menurut Iqbal, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari upaya membangun ekosistem waralaba di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Asosiasi, penyelenggara pameran, pelaku usaha, hingga pemerintah dinilai memiliki peran dalam membuka ruang bagi bisnis lokal untuk berkembang.

Namun, pemerintah tidak ingin perkembangan waralaba berhenti di pasar domestik. Tantangan berikutnya adalah membawa merek Indonesia keluar negeri dan menjadikannya bagian dari pasar global.

Iqbal mengatakan Kementerian Perdagangan memiliki program Local to Global yang diarahkan untuk mendorong pelaku usaha Indonesia memperluas pasar ke mancanegara.

“Local to Global berarti kita mendorong pelaku usaha untuk masuk ke pasar global,” kata dia.

Sektor kuliner menjadi salah satu yang dinilai punya peluang besar untuk dikembangkan. Menurut Iqbal, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang dapat menjadi modal untuk membangun merek dan konsep bisnis yang dapat diterima di negara lain.

Ia mencontohkan keberadaan bisnis kuliner Indonesia di luar negeri sebagai gambaran bahwa produk lokal sebenarnya memiliki peluang untuk berkembang secara internasional. Persoalannya adalah bagaimana membangun konsep, sistem, dan ekosistem bisnis agar dapat direplikasi di pasar yang berbeda.

Dorongan ekspansi tersebut juga berkaitan dengan upaya meningkatkan kewirausahaan nasional. Iqbal menyebut tingkat kewirausahaan Indonesia saat ini masih sekitar 3,29%, lebih rendah dibandingkan Malaysia yang berada di kisaran 4,8% dan Thailand sekitar 4,8%-5%.

Pemerintah menargetkan rasio kewirausahaan Indonesia dapat terus meningkat hingga mencapai setidaknya 10% pada 2045.

Dalam konteks tersebut, waralaba dinilai memiliki keunggulan karena calon pengusaha tidak harus membangun bisnis dari nol. Sistem yang sudah tersedia dapat membantu pelaku usaha menjalankan bisnis, meski tetap memiliki risiko yang harus diperhitungkan.

Baca Juga: IFRA 2026: Brand Thailand Tawarkan Peluang Waralaba dan Business Matching di Indonesia

Baca Juga: Kemenperin Bidik 1.644 RPH dan TPH jadi pasar baru IKM logam

Baca Juga: Kunjungi Suzuki di GIIAS Surabaya, Wamenperin Soroti Industri Komponen Lokal

“Tidak ada usaha yang bebas risiko,” ujar Iqbal.

Karena itu, pertumbuhan waralaba lokal juga perlu diikuti dengan penguatan tata kelola bisnis. Penyelenggara IFRA 2026 sebelumnya menekankan pentingnya praktik waralaba yang aman, legal, dan transparan.

IFRA 2026 sendiri menjadi salah satu ruang yang mempertemukan pemilik merek dengan calon mitra usaha. Pameran tersebut diikuti lebih dari 250 merek dan ditargetkan menarik lebih dari 30.000 pengunjung.

Bagi pemerintah, semakin kuatnya posisi merek lokal memberi peluang baru bagi Indonesia. Jika sebelumnya pasar domestik menjadi tujuan utama ekspansi, tahap berikutnya adalah menjadikan waralaba dan merek Indonesia sebagai produk bisnis yang mampu bersaing di pasar internasional.

Dengan demikian, keberhasilan industri waralaba lokal tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak gerai yang dibuka di dalam negeri, tetapi juga dari seberapa jauh merek Indonesia mampu menembus pasar global.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan