Ketum Projo Budi Arie Kena Sentil Aktivis 98: Jangan Merasa Relawan Adalah Penentu Kekuasaan
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mendapat kritik dari Aktivis 98 Yulian Paonganan. Hal itu menyusul polemik pernyataannya mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029.
Yulian mengingatkan elite organisasi relawan agar tidak menempatkan diri seolah-olah memiliki kewenangan menentukan arah kekuasaan nasional. Menurutnya, relawan memang memiliki hak politik, tetapi bukan berarti menjadi pihak yang menentukan siapa dan bagaimana kekuasaan berjalan.
Baca Juga: Massa Demo 27 Agustus Ungkap Watak Asli Botok: Rekening Bank Diblokir karena Tuhan Tahu Kalian Busuk
“Jangan merasa relawan adalah penentu kekuasaan. Kekuasaan itu ada mekanismenya, ada konstitusinya, dan ada rakyat yang menentukan,” ungkap Yulian, dikutip Jumat (28/8/2026).
Yulian menilai kekuasaan memiliki mekanisme formal yang tidak dapat digantikan oleh organisasi relawan. Menurut dia, sistem konstitusional dan rakyat tetap menjadi fondasi utama dalam menentukan kepemimpinan nasional.
Ia karena itu mengkritik kecenderungan sebagian elite relawan yang dinilai terlalu percaya diri dalam membaca dan mengarahkan dinamika politik.
Yulian juga mempertanyakan konsistensi Projo sebagai gerakan relawan. Ia menyebut kelompok tersebut lebih sering terlihat ketika kepentingan politik sedang menguat.
Menurut Yulian, persoalan bukan pada hak politik relawan. Yang menjadi masalah adalah ketika aktivitas organisasi relawan mulai sulit dibedakan dari kendaraan politik.
“Kalau relawan cuma ramai menjelang pemilu, lalu setelah itu sibuk mencari posisi dan pengaruh, publik berhak bertanya, ini sebenarnya relawan atau kendaraan politik?” katanya.
Sebelumnya, Budi Arie mengejutkan publik dengan analisisnya mengenai kemungkinan pemilu dipercepat sebelum waktunya memicu perdebatan. Pembicaraan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan ketika ada sosok dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.
Terbaru, Budi, ketika ditanya apakah prediksinya tersebut akan terbukti atau justru meleset, ia memilih menyerahkan jawabannya kepada waktu. Ia, alih-alih memberikan kepastian, menggunakan istilah “takdir” dan “sejarah” untuk menjelaskan bahwa analisis politik tidak selalu dapat dipastikan kebenarannya sejak awal.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Beri Hormat dan Terima Kasih untuk Peserta Demo 27 Agustus
“Nah, soal insting itu peleset atau enggak, ya sudahlah. Biarlah waktu menemukan takdirnya sendiri. Namanya juga analisis, ya kan? Ya biarlah sejarah menemukan takdirnya sendiri,” kata Budi Arie.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: