Ketum Projo Budi Arie Ogah Tarik Ucapannya Soal Kemungkinan Prabowo Jatuh Sebelum 2029
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi memilih tidak menarik kembali pernyataannya mengenai kemungkinan pemilu selanjutnya berlangsung lebih cepat. Padahal sinyal itu ditafsirkan sebagai sinyal adanya kemungkinan jatuhnya Presiden Prabowo Subianto.
Budi Arie mengatakan analisis politik tidak bisa disamakan dengan kehendak politik. Karena itu, ia merasa tidak memiliki alasan untuk meralat pandangannya mengenai kemungkinan perubahan dinamika politik sebelum 2029.
Baca Juga: Massa Demo 27 Agustus: Kami Kecewa, Gak Sesuai Ekspektasi
“Kalau analisis kan itu kan begini, ada kemungkinan biasa 2029, tapi kok ada analisis lebih cepat? Tidak perlu ditarik, biar saja waktu membuktikan itu. Saya tidak meralat pernyataan saya, saya cuma bilang bahwa kita itu bisa diperbaiki,” kata Budi Arie dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Budi Arie menjelaskan pernyataannya muncul setelah melihat perkembangan dinamika masyarakat. Ia menyebut gerakan mahasiswa serta berbagai aspirasi yang berkembang di ruang publik sebagai bagian dari hal yang diamatinya.
Menurutnya, membaca kemungkinan yang terjadi di masa depan berbeda dengan memiliki agenda untuk mewujudkan kemungkinan tersebut. Karena itu, Budi Arie menolak jika pernyataannya dianggap sebagai ajakan kepada pihak tertentu untuk mempercepat Pemilu 2029.
Ia menilai dinamika politik yang berkembang perlu dikelola secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Adapun Budi Arie juga menegaskan bahwa prinsip dasar reformasi Indonesia tetap harus menjadi pegangan. Ia menyatakan pelaksanaan pemilu lima tahunan merupakan bagian dari kesepakatan demokrasi.
“Kalau soal pemilu dipercepat atau pemilu sesuai jadwalnya, lebih bagus. Dan kita memang sepakat dengan dasar reformasi kita bahwa pemilu lima tahun sekali,” kata dia.
Budi Arie tidak secara terbuka menyatakan bahwa pemilu harus dipercepat. Ia justru menempatkan kemungkinan tersebut sebagai salah satu skenario yang muncul dari pembacaan terhadap dinamika politik.
“Tetapi kan saya cuma ingatkan kepada kawan-kawan semua, kita pernah punya pengalaman, iya kan? Tahun 97-99, sehingga kita harus waspada, harus mengantisipasi ini dengan cermat dan dingin,” ujarnya.
Sebelumnya, banyak pihak mengkritik pernyataan kontroversial dari Ketum Projo Budi Arie. Ia diketahui membuat pernyataan yang kemudian viral di media sosial. Dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia mengaku memiliki insting bahwa pemilu dapat berlangsung lebih cepat dari jadwal 2029.
"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.
Budi Arie juga mengaitkan kemungkinan tersebut dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia membandingkannya dengan situasi menjelang perubahan besar pada akhir Orde Baru.
Baca Juga: 'Projo Itu Relawan Semu Jokowi, Tidak Jelas Arahnya, Mirip Kabinet Bayangan'
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun '97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi," tegasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: