Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Jadi Mata Uang Asia Paling Loyo
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (31/8/2026). Rupiah di pasar spot dibuka di level Rp17.748 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan 0,31% dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026) di level Rp17.693 per dolar AS).
Dengan pelemahan tersebut, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada awal perdagangan.
Pergerakan mata uang Asia hingga pukul 09.00 WIB cenderung bervariasi. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar kedua setelah rupiah, yakni terkoreksi 0,2% terhadap dolar AS.
Tekanan juga dialami baht Thailand yang melemah 0,13%, disusul dolar Taiwan yang turun 0,06% Sementara itu, peso Filipina terkoreksi tipis 0,03%.
Di sisi lain, yen Jepang justru mencatatkan penguatan terbesar di kawasan Asia. Yen menguat 0,16% terhadap dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan kurs rupiah bakal berada di rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS untuk pekan ini. Pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik maupun eksternal.
Ibrahim menjelaskan bahwa para pelaku usaha di dalam negeri saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.693, Pasar Sambut Positif Destry Jadi Gubernur BI
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.729 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Menurut Ibrahim, indikator inflasi menjadi acuan krusial bagi Bank Indonesia dalam mengarahkan kebijakan moneter serta tingkat suku bunga ke depan. Laju inflasi yang terkendali berpotensi membuka ruang pelonggaran moneter, sedangkan inflasi yang tinggi akan menahan suku bunga tetap berada pada level ketat.
Di samping itu, rilis data perdagangan bulan Juli yang disajikan BPS turut menjadi perhatian karena mencerminkan dinamika pasokan, tingkat permintaan, serta biaya logistik pangan. Kenaikan ketergantungan pada impor pangan di tengah pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan beban biaya impor.
“Serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal,” ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: