Kredit Foto: Istimewa
Pengamat menilai skema uang muka atau DP 0% dan bunga rendah untuk pembelian Motor Listrik Nasional (Molinas) dinilai belum tentu mampu mendorong penjualan apabila daya beli masyarakat masih lemah.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menekankan bahwa kebijakan itu perlu dibarengi dengan perbaikan permintaan, terutama karena konsumsi kendaraan bermotor saat ini masih menghadapi tekanan.
Lebih lanjut, ia mengatakan dengan adanya insentif pembiayaan tidak otomatis menciptakan permintaan baru dan kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan tetap menjadi faktor utama.
“Pertama, cicilan rendah dan DP 0 persen akan percuma jika tidak ada permintaan. Permintaan ini memang bisa dari sisi sistem pembayaran pembiayaan, namun yang paling penting adalah daya beli masyarakatnya,” ujar Huda kepada Warta Ekonomi, Senin (31/8/2026).
Saat ini, kondisi daya beli masyarakat masih rendah yang tercermin dari melemahnya permintaan terhadap barang-barang tahan lama, termasuk kendaraan bermotor.
“Saat ini, daya beli masyarakat terbilang rendah. Permintaan untuk barang-barang tahan lama cukup berkurang. Barang-barang seperti kendaraan bermotor, kurang permintaan,” katanya.
Ia menilai, persoalan tersebut membuat skema pembiayaan perlu dilihat dari sisi permintaan, bukan hanya kemudahan pembayaran. Untuk membeli kendaraan, masyarakat tetap perlu memiliki kemampuan ekonomi.
“Berbeda dengan subsidi harga, subsidi saat ini hanya di pembiayaannya. Artinya, secara harga juga masih akan tinggi dan tidak akan terjangkau oleh pendapatan masyarakat saat ini,” ujar Huda.
Dengan skema DP 0% yang digagas pemerintah memang bisa menjadi bagian dari upaya mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus meringankan akses pembiayaan masyarakat. Namun, menurut Huda, efektivitas kebijakan tersebut bergantung pada kondisi daya beli dan kemampuan pasar menyerap kendaraan baru.
Wakil Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Niko Kurniawan juga menilai bahwa saat ini pembiayaan motor listrik adalah salah satu segmen yang memiliki potensi pertumbuhan seiring semakin luasnya pilihan produk, meningkatnya awareness masyarakat, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan kendaraan listrik.
Baca Juga: Pemerintah Dorong DP 0% Motor Listrik Nasional, INDEF: NPL Bisa Membengkak
Baca Juga: Lihat Peluang dari DP 0% Motor Listrik, Namun Adira Wanti-wanti Soal NPL
Adapun salah satu tantangan yang dihadapi adalah soal aspek risiko pasar EV.
"Sebagai segmen yang relatif masih berkembang, terdapat beberapa aspek risiko yang perlu diperhatikan, antara lain perkembangan harga dan nilai jual kembali kendaraan listrik, ketahanan baterai, serta penetrasi pasar kendaraan listrik bekas," ujarnya kepada Warta Ekonomi.
Per Juli 2026, Adira Finance diketahui mencatat pembiayaan sepeda motor listrik Adira Finance sekitar Rp24 miliar dan menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri