Strategi Efisiensi Presiden Prabowo: Tutup Ratusan BUMN demi Hemat Rp300 Triliun untuk Rakyat
Kredit Foto: BPMI
Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus melakukan langkah drastis dalam mereformasi badan usaha milik negara (BUMN). Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun masa pemerintahannya, Presiden Prabowo tercatat telah menutup 290 BUMN yang tidak produktif dan terus mengalami kerugian. Langkah tegas pembubaran perusahaan plat merah yang tidak berkinerja baik ini terbukti berhasil memangkas pengeluaran negara secara signifikan, yakni mencatatkan penghematan anggaran hingga Rp50 triliun dari tahap awal perampingan.
"Dalam kurang 2 tahun pemerintah yang saya pimpin, kita telah menutup BUMN yang tidak menguntungkan, yang tidak punya kinerja baik, yang rugi kita tutup 290 BUMN. Dengan 290 BUMN kita telah menghemat 50 triliun," tegas Presiden Prabowo di Jombang, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Tak Mau Rakyat Berutang ke Rentenir, Prabowo Dorong Negara Beri Pinjaman Lunak
Pemerintah tidak berhenti di angka tersebut dan memproyeksikan perampingan skala besar akan terus berlanjut. Pada 31 Desember 2026, pemerintah menargetkan penutupan paling sedikit 700 BUMN bermasalah lainnya. Melalui perampingan agresif ini, jumlah BUMN di Indonesia nantinya akan disusutkan hingga tersisa sekitar 200 hingga 250 perusahaan saja yang benar-benar sehat dan strategis. Pemangkasan jumlah entitas ini ditujukan untuk menghapus beban operasional yang tidak perlu (overhead), termasuk biaya rutin serta alokasi gaji direksi dan komisaris pada perusahaan yang tidak produktif. Dari langkah perampingan susulan ini, pemerintah membidik tambahan penghematan sebesar Rp100 triliun.
Secara keseluruhan, akumulasi penghematan dari berbagai lini efisiensi anggaran yang dijalankan pemerintah diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 triliun hingga mendekati Rp300 triliun setiap tahunnya.
"Berarti harapan saya kita bisa menghemat 100 triliun dari overhead, dari biaya rutin, gaji direksi, gaji komisaris. Penghematan kita di berbagai bidang sudah mendekati tiap tahun lebih dari 200 triliun, mendekati 300 triliun tiap tahun," tambah Presiden.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa dana hasil penghematan bernilai fantastis tersebut tidak akan disia-siakan. Seluruh alokasi anggaran yang berhasil diselamatkan dari BUMN rugi akan digelontorkan secara maksimal untuk program-program yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Langkah efisiensi internal ini juga menjadi strategi utama pemerintah untuk mengikis ketergantungan pada pinjaman luar negeri dan lebih mengutamakan masuknya investasi yang sehat.
"Uang inilah yang kita alihkan, yang kita gelontorkan sebesar-besarnya langsung ke rakyat. Dan kita sekarang berusaha tidak mau terlalu banyak pinjam-pinjam uang dari mana-mana. Ajak investasi boleh," pungkasnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: