Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cuma Hitungan Hari, China Pulihkan Jalan yang Hancur Diterjang Banjir Bandang

Cuma Hitungan Hari, China Pulihkan Jalan yang Hancur Diterjang Banjir Bandang Kredit Foto: Reuters/Aly Song
Warta Ekonomi, Jakarta -

China bergerak cepat memperbaiki jalan yang rusak parah akibat banjir bandang dan longsor di wilayah Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Xizang. Hanya dalam hitungan hari setelah bencana menerjang, tim penyelamat sudah berhasil membuka kembali sebagian akses menuju Pelabuhan Gyirong.

Hingga Senin (31/8/2026) pukul 16.00 waktu setempat, petugas telah membersihkan sekitar 1,1 kilometer ruas jalan dari arah Pelabuhan Gyirong. Pekerjaan tersebut dilakukan untuk memulihkan akses di Jalan Raya Nasional G216 yang menjadi jalur utama menuju pelabuhan.

Bencana terjadi pada Rabu pagi pekan sebelumnya setelah longsoran lumpur besar dari wilayah Nepal menerjang kawasan Pelabuhan Gyirong. Banjir bandang dan longsor kemudian merusak parah jalan, sekaligus memutus jaringan listrik dan telekomunikasi di kawasan terdampak.

Dalam waktu kurang dari sepekan, China langsung mengerahkan tim khusus untuk mempercepat pemulihan akses jalan. Kementerian Manajemen Darurat China menugaskan tim penyelamat profesional dari China Anneng Group ke lokasi bencana.

Sebanyak 158 personel dikerahkan untuk menangani kerusakan di kawasan inti bencana. Mereka didukung 28 unit peralatan berat seperti ekskavator dan loader untuk mempercepat proses pembersihan serta pembangunan kembali ruas jalan.

Petugas tidak hanya membersihkan material longsoran yang menutup jalan. Mereka juga menambal bagian jalan yang rusak dan menempatkan batu di sepanjang aliran air untuk membentuk kembali jalur yang terdampak.

Kecepatan penanganan menjadi tantangan tersendiri karena kerusakan terjadi di kawasan dengan kondisi geografis yang sulit. Tebing curam berada di satu sisi area pekerjaan, sementara arus air deras mengalir di sisi lainnya.

Meski menghadapi kondisi tersebut, tim penyelamat terus bekerja untuk memulihkan akses dalam waktu sesingkat mungkin. Ekskavator digunakan secara bergantian untuk memindahkan batu-batu besar yang diperlukan sebagai penahan erosi.

Material kemudian ditumpuk dan dipadatkan secara bertahap di belakang susunan batu. Cara tersebut dilakukan untuk membentuk kembali dasar jalan yang sebelumnya terkikis oleh derasnya aliran air.

Di bagian dengan arus paling kuat, alat berat bahkan diarahkan langsung ke dalam air. Langkah itu dilakukan untuk memperpanjang jalur secara bertahap hingga terbentuk akses jalan sementara.

Pemulihan jalan dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga keselamatan pekerja. Tim memantau kondisi tebing karena kawasan tersebut masih berpotensi mengalami longsor atau jatuhan batu susulan.

Teknologi laser dan kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk memantau perubahan kondisi tebing. Sistem tersebut membantu petugas mendeteksi deformasi lereng dan potensi bahaya selama proses perbaikan berlangsung.

Baca Juga: Ancaman Banjir Susulan di Nepal: Danau Gletser Meluap, 469 Tewas dan 1.000 Hilang

Jalur evakuasi darurat juga disiapkan di sekitar lokasi pekerjaan. Dengan langkah tersebut, proses pemulihan akses dapat terus dilakukan tanpa mengabaikan risiko bencana susulan.

Dalam hitungan hari setelah bencana besar melanda, China telah mengerahkan personel, alat berat, dan teknologi pemantauan untuk mempercepat pemulihan jalan. Pembukaan kembali sebagian ruas G216 menjadi salah satu langkah awal untuk mengembalikan akses menuju Pelabuhan Gyirong.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: