Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pihak China 'Ogah' Diajak Pihak AS Kurangi Pengembangan AI

Pihak China 'Ogah' Diajak Pihak AS Kurangi Pengembangan AI Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Seruan untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu perdebatan mengenai persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Pendiri Anthropic, Dario Amodei, yang mendorong langkah tersebut, mendapat sorotan dari media pemerintah China, China Daily.

Dilansir dari Telset, China Daily menilai inisiatif Amodei tidak hanya berkaitan dengan keselamatan teknis AI. Menurut publikasi tersebut, seruan itu juga dapat dilihat dalam konteks persaingan teknologi dengan Beijing dan tekanan regulasi di Washington.

Sikap Amodei disebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk. China Daily memandang keterlibatan sejumlah tokoh industri teknologi tersebut sebagai bentuk koordinasi antarkorporasi.

Publikasi resmi China itu menyebut terdapat tiga sasaran yang dinilai berada di balik pendekatan tersebut. Ketiganya adalah menahan perkembangan AI China, mengamankan regulasi domestik yang dinilai menguntungkan, serta mempertahankan minat investor Amerika Serikat.

China Daily juga menyoroti keputusan untuk tidak memasukkan Beijing dalam proposal keselamatan AI. Langkah tersebut dinilai dapat memperlebar kesenjangan kemampuan teknologi antara China dan Amerika Serikat.

Menurut publikasi itu, pendekatan tersebut mencerminkan pandangan sebagian otoritas Amerika Serikat yang menempatkan kemampuan AI China sebagai ancaman langsung.

Kritik juga diarahkan pada pola kerja sama antara perusahaan teknologi. China Daily menilai kerangka keselamatan AI global tidak akan efektif apabila tidak melibatkan China. Kerja sama antara perusahaan-perusahaan tersebut juga dipandang menyerupai kelompok eksklusif.

Di sisi lain, pembatasan teknologi dari Washington disebut belum menghentikan perkembangan industri AI China. Kebijakan seperti pembatasan akses terhadap chip Nvidia mutakhir serta tuduhan terkait distilasi ilegal model Claude disebut tidak sepenuhnya mampu menahan inovasi perusahaan AI di China.

Kemunculan model AI dari perusahaan China, seperti DeepSeek dan Kimi K3, menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Model-model itu disebut menunjukkan bahwa pengembangan AI dengan kemampuan tinggi dapat dilakukan dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Efisiensi biaya kemudian mendorong perhatian pengguna terhadap model dengan harga token lebih ekonomis, termasuk Kimi K3 low dan DeepSeek V4 Pro. Perubahan tersebut disebut turut memengaruhi persaingan dengan model frontier berbiaya lebih tinggi seperti Fable 5.1, GPT 5.6 Sol, Grok 4.6, dan Kimi K3 max.

Meski mengkritik pendekatan yang mengecualikan China, Beijing tetap menyatakan perhatian terhadap persoalan keselamatan AI. Standardization Administration bersama Cyberspace Administration of China menyatakan perlunya pengawasan ketat terhadap perkembangan teknologi AI agar tidak berkembang di luar kendali manusia, termasuk untuk mencegah potensi penyalahgunaan teknologi deepfake.

Baca Juga: Lebih Lunak ke Xi Jinping, Trump Izinkan Produsen China Bangun Pabrik Mobil di AS

China Daily juga menilai perlombaan AI yang ditempatkan sebagai persaingan zero-sum dapat menyulitkan kerja sama internasional dalam mengelola risiko. Karena itu, China dan Amerika Serikat dinilai perlu memiliki ruang kerja sama untuk menghadapi risiko AI yang dampaknya tidak dapat ditangani oleh salah satu negara secara sendiri.

Dialog keselamatan AI dan pertukaran tingkat tinggi disebut dapat menjadi sarana komunikasi antara kedua negara. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuka ruang pembahasan mengenai risiko teknologi sekaligus menjaga komunikasi di tengah persaingan industri AI.

Ketegangan teknologi antara Washington dan Beijing berlangsung ketika laporan mengenai penggunaan chip Nvidia Blackwell oleh Moonshot AI untuk melatih Kimi K3 turut mencuat. Pada saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat terus menerapkan pembatasan ekspor baru yang diarahkan pada akses perusahaan China terhadap server AI jarak jauh.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat