AS Tak Sengaja Ciptakan Poros China, Rusia, dan Iran yang Justru Berbahaya
Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergei Karpukhin
Hubungan Cina, Rusia, dan Iran yang semakin erat menjadi tantangan bagi strategi Amerika Serikat dalam menggunakan tekanan ekonomi dan sanksi untuk membatasi ruang gerak negara-negara tersebut.
Sinyal itu terlihat dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan. Dalam forum yang berlangsung sejak Senin (31/8/2026) tersebut, Presiden Cina Xi Jinping mempertemukan kepentingan Rusia dan Iran dalam satu forum.
Kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama Xi Jinping memperlihatkan semakin strategisnya hubungan ekonomi dan politik ketiga negara. Bagi Beijing, momentum tersebut sekaligus menjadi panggung untuk menunjukkan luasnya jaringan hubungan internasional yang dimilikinya.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Washington yang selama ini mengandalkan tekanan ekonomi dan sanksi untuk membatasi Moskwa dan Teheran.
Cina memiliki posisi penting dalam hubungan tersebut karena menjadi salah satu konsumen energi terbesar dunia sekaligus pasar utama bagi komoditas dari Rusia dan Iran.
Perdagangan energi memberikan Rusia dan Iran sumber pemasukan serta membuka jalur ekonomi alternatif ketika keduanya menghadapi berbagai pembatasan dari negara-negara Barat.
Namun, Beijing tampaknya tidak mendorong hubungan tersebut menjadi aliansi militer terbuka. Cina tetap menjaga jarak dari konflik bersenjata dan lebih mengutamakan perluasan kerja sama perdagangan, investasi, teknologi, serta konektivitas logistik.
Dalam pertemuan dengan Putin di sela-sela KTT SCO, Xi menilai prospek hubungan Cina-Rusia semakin positif. Kedua negara juga terus memperluas kerja sama di berbagai bidang.
Rusia bahkan tengah menyiapkan kebijakan bebas visa permanen bagi warga Cina. Di sektor transportasi, kerja sama juga berkembang, salah satunya terlihat dari keberhasilan kapal kontainer Cina melakukan pelayaran melalui Rute Laut Utara di kawasan Arktik pada pertengahan Agustus 2026.
Jalur tersebut memiliki potensi strategis untuk memperpendek konektivitas perdagangan antara Asia dan Eropa.
Sementara itu, kehadiran Iran dalam SCO menunjukkan semakin luasnya ruang diplomasi Teheran di luar hubungan dengan negara-negara Barat.
Negara-negara Asia Tengah juga memiliki posisi yang semakin penting karena dapat menjadi jalur perdagangan, transportasi, dan pembayaran bagi negara-negara yang menghadapi pembatasan ekonomi.
Perubahan jaringan ekonomi tersebut membuat kebijakan isolasi ekonomi AS menghadapi tantangan. Ketika satu negara menutup akses perdagangan, negara lain masih dapat menyediakan pasar, jalur distribusi, atau mekanisme transaksi alternatif.
Cina berada pada posisi yang menguntungkan dalam jaringan tersebut. Besarnya pasar domestik, kemampuan manufaktur, kekuatan finansial, dan kebutuhan energi memberikan Beijing daya tawar besar terhadap Rusia maupun Iran.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi pasar energi dunia. Gangguan terhadap jalur pelayaran dan pasokan minyak dapat mendorong negara-negara importir mencari sumber energi alternatif.
India juga tetap memiliki kepentingan besar terhadap pasokan minyak Rusia. Kondisi ini menunjukkan semakin sulitnya memisahkan hubungan ekonomi antarnegara dari kepentingan geopolitik.
Sanksi yang diterapkan satu kekuatan tidak selalu mampu menghentikan perdagangan apabila masih tersedia negara lain yang bersedia menjadi mitra.
Bagi Xi Jinping, momentum KTT SCO memberikan kesempatan untuk menampilkan Cina sebagai kekuatan yang memiliki banyak pilihan dalam membangun hubungan internasional.
Beijing dapat menjalin kerja sama dengan Rusia dan Iran sekaligus mempertahankan komunikasi dengan negara-negara Barat. Cina berusaha menunjukkan bahwa pengaruh global tidak lagi hanya berpusat pada Washington.
Meski demikian, hubungan Cina dengan Rusia dan Iran tetap memiliki batas. Beijing harus mempertimbangkan kepentingan ekonominya sendiri, terutama hubungan perdagangan dengan AS dan Eropa.
Karena itu, dukungan Cina terhadap Moskwa dan Teheran lebih banyak diwujudkan melalui hubungan ekonomi dan diplomasi ketimbang keterlibatan militer secara langsung.
Baca Juga: Tak Patuhi Trump Soal Sanksi Ekonomi Iran, China Bisa Buat AS Murka
Perkembangan di Bishkek memperlihatkan perubahan dalam peta kekuatan global. Rusia dan Iran berusaha mengurangi ketergantungan terhadap sistem ekonomi Barat, sementara Cina memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas pengaruhnya.
Belum dapat disimpulkan bahwa tekanan ekonomi AS akan kehilangan efektivitas sepenuhnya. Namun, semakin banyak jalur perdagangan dan kerja sama alternatif membuat strategi isolasi ekonomi menjadi lebih rumit.
KTT SCO menjadi salah satu gambaran bahwa dunia bergerak menuju sistem hubungan internasional yang lebih multipolar. Dalam konfigurasi tersebut, Cina tidak sekadar menjadi peserta, tetapi berusaha memainkan peran sebagai salah satu pengarah utama perubahan geopolitik global.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: