Harga Ayam Meroket Sentuh Rp50.000/Kg, INKOPPAS Minta Pemerintah Genjot Produksi Hulu
Kredit Foto: Ist
Harga daging ayam potong di sejumlah pasar rakyat terpantau melonjak tajam hingga mendekati angka Rp50.000 per kilogram. Kenaikan harga ini menekan daya beli konsumen rumah tangga sekaligus menurunkan omzet harian para pedagang pasar.
Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS), Andrian Lame Muhar, menyebutkan bahwa lonjakan harga ini merupakan imbas dari ketidakseimbangan pasokan di tengah tingginya permintaan pasar.
Saat ditemui di Kantor Kementerian Koperasi, Jakarta, Senin (31/8/2026), ia memaparkan tiga faktor utama penyebab meroketnya harga ayam potong saat ini:
- Permintaan Melonjak: Bergulirnya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap pasokan ayam dalam jumlah besar.
- Kenaikan Harga Pakan: Biaya pakan ternak dilaporkan melonjak drastis lebih dari dua kali lipat, dari Rp1.000 menjadi Rp2.250.
- Penyusutan Jumlah Peternak: Alih fungsi lahan memicu berkurangnya jumlah peternak ayam aktif di lapangan.
Pedagang Turut Terdampak
Meski harga jual meroket, Andrian menegaskan bahwa pedagang pasar rakyat tidak menikmati keuntungan lebih. Pedagang hanya mengambil margin secara linier dari harga beli.
"Kalau harga beli ayam Rp50.000, kami jual Rp51.000. Masalahnya, ketika harga tinggi, omzet pedagang justru berkurang karena pembeli cenderung mengurangi jumlah belanjaannya," jelas Andrian.
Di sisi lain, INKOPPAS turut menyoroti dugaan kartelisasi pakan ayam oleh pihak importir. Andrian mendesak pemerintah agar tidak ragu menindak tegas pihak-pihak yang mempermainkan harga pakan, karena beban biaya tersebut pada akhirnya ditanggung oleh konsumen.
Secara prinsip, pedagang pasar menyambut positif program MBG. Keterlibatan vendor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berbelanja dalam jumlah besar di pasar rakyat terbukti membantu mempercepat perputaran stok pedagang.
Namun, Andrian memperingatkan adanya potensi persaingan stok antara kebutuhan MBG dan masyarakat umum.
Jika vendor mengambil bahan pangan dalam jumlah besar tanpa diimbangi peningkatan pasokan, masyarakat terpaksa harus "berebut" suplai protein di pasaran. Dampak ini bahkan sudah mulai terasa di sejumlah daerah seperti Kalimantan, di mana harga pangan dilaporkan sempat naik hingga Rp15.000.
"Yang paling penting adalah mencegah terjadinya kelangkaan. Itu yang paling berbahaya. Kalau permintaan meningkat karena program MBG, produksi dari sektor hulu juga harus digenjot, idealnya hingga dua kali lipat," tegasnya.
Pemerintah diharapkan segera menghitung ulang proporsi kebutuhan pangan secara nasional dan memperkuat sektor hulu. Dengan demikian, ketersediaan gizi untuk masyarakat umum tetap terjaga tanpa harus mengorbankan stabilitas harga di pasar.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat