Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Xi Jinping Bertemu 'Cepat' Presiden Iran, China Tak Berani Banyak Publikasi

Xi Jinping Bertemu 'Cepat' Presiden Iran, China Tak Berani Banyak Publikasi Kredit Foto: Tehrantimes
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden China Xi Jinping melakukan pertemuan singkat dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Kirgistan, Rabu (2/9/2026).

Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut berlangsung hanya beberapa menit. Media semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan bahwa pembicaraan Xi dan Pezeshkian berfokus pada agenda penguatan hubungan bilateral.

Namun, pertemuan tersebut tidak mendapat sorotan besar dari media nasional China. Pemerintah China memilih membatasi publikasi mengenai pertemuan Xi dengan Pezeshkian dan tidak menampilkan momen tersebut di halaman utama media nasional.

Sikap tersebut berbeda dengan pemberitaan mengenai pertemuan Xi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi yang mendapat liputan lebih luas.

Sejumlah analis menilai pembatasan publikasi itu merupakan bagian dari strategi diplomasi Beijing untuk menjaga jarak dari Iran. Langkah tersebut dikaitkan dengan rencana kunjungan Xi ke Washington untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

China dinilai berupaya menjaga iklim hubungan dengan AS di tengah dinamika hubungan internasional yang semakin kompleks.

Di sisi lain, China tetap memiliki kepentingan kuat terhadap Iran, terutama dalam hal pasokan energi. China merupakan pembeli minyak terbesar dari Iran.

Namun, volume impor minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan akibat eskalasi konflik. Beijing menginginkan penghentian ketegangan militer dan dibukanya kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Pada saat yang sama, KTT SCO mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan militer terhadap Iran dan mendukung hak Iran untuk mengembangkan nuklir sipil.

Baca Juga: AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Brent Tembus US$95

Dalam situasi tersebut, China dinilai tetap mempertahankan saluran komunikasi diplomatik dengan Iran untuk menjaga pengaruhnya di kawasan Timur Tengah.

Dinamika tersebut berlangsung di tengah tekanan sanksi sekunder Amerika Serikat terhadap entitas yang melakukan bisnis dengan Iran.

Beijing juga menghadapi sejumlah kepentingan yang harus dijaga secara bersamaan, mulai dari mengamankan pasokan energi nasional, mempertahankan pengaruh di negara-negara Global South, hingga mencegah memburuknya perselisihan dagang dengan AS.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: