Kredit Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Profesor riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan alasan Jepang cepat turun tangan membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Menurut Erma, asap dari kebakaran hutan yang terus membumbung ke atmosfer dapat bergerak lintas batas negara (transboundary hazard). Jika berlangsung masif dan berkelanjutan, asap tersebut berpotensi mencapai Jepang.
"Mengapa Jepang gercep bantu padamkan Karhutla Indonesia? Karena asap yang membumbung ke atmosfer secara massif dan terus-menerus ini lama-lama bisa sampai juga ke Jepang. Asap ini kan urusannya transboundary hazard. Bisa menjangkau wilayah-wilayah yang jauh jika didukung oleh angin," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (3/9).
Sebagai bentuk antisipasi, pemerintah Jepang resmi mengirimkan bantuan militer dan armada udara. Langkah ini merupakan bagian dari kerja sama pertahanan bilateral serta misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) menyerahkan bantuan berupa 3 unit helikopter CH-47 Chinook untuk operasi water bombing dari udara, 1 kapal angkut amfibi JS Kunisaki milik Pasukan Bela Diri Laut Jepang untuk membawa armada dan logistik, dan sekitar 600 personel militer yang diterjunkan langsung mendukung operasi di lapangan.
Baca Juga: Malaysia dan Brunei Keluhkan Asap Karhutla, Pakar Soroti Respons Pemerintah Indonesia
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyampaikan bahwa tim pendahulu dari Jepang sudah tiba di Indonesia untuk berkoordinasi dengan TNI dan Satgas Karhutla. Operasi helikopter pemadam kebakaran akan berbasis di Lanud Supadio, Kalimantan Barat.
“Kerja sama pertahanan, kalau ada teman yang susah, dia balik membantu,” ujar Sjafrie saat Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI, dikutip dari siaran pers Kemhan RI, Selasa (1/9/2026).
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya