Tiga Kali Disurvei, Kerukunan Selalu Jadi Capaian Tertinggi Pemerintahan Prabowo-Gibran
Kredit Foto: Istimewa
Kerukunan antarumat beragama kembali menjadi bidang yang mendapat penilaian keberhasilan tertinggi dari publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hasil terbaru Survei Nasional Poltracking Indonesia menunjukkan 72,5 persen responden menilai pemerintah berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama.
Yang membuat temuan tersebut menarik bukan hanya tingginya angka keberhasilan, tetapi juga konsistensinya sepanjang 2026. Kerukunan antarumat disebut selalu menempati posisi teratas dalam tiga kali Survei Nasional Poltracking yang digelar pada Maret, Mei, dan Agustus tahun ini.
Survei terbaru dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Penilaian positif tersebut mendapat respons dari Kementerian Agama. Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin menilai capaian itu merupakan kabar menggembirakan sekaligus menunjukkan bahwa menjaga kerukunan bukan hanya menjadi pekerjaan pemerintah.
“Tentu ini adalah sebuah pencapaian yang menggembirakan, khususnya bagi kami di Kementerian Agama. Saya yakin, ini bukan hanya karena hasil kerja pemerintah, tapi ini juga hasil dari upaya masyarakat yang sama-sama menjaganya,” ungkap Kamaruddin di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Kamaruddin, konsistensi penilaian publik tersebut menunjukkan bahwa kerukunan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut juga dinilai menjadi modal yang dibutuhkan pemerintah untuk menjalankan pembangunan.
Kamaruddin menegaskan pemerintah tidak boleh berhenti hanya karena penilaian publik terhadap kerukunan sudah tinggi. Pemerintah bersama masyarakat tetap harus menjaga sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan antarumat beragama.
“Kita semua harus terus menjaga sekaligus terus meningkatkan kerukunan antarumat beragama yang sudah sangat baik ini,” jelasnya.
Baca Juga: Ketum Projo Budi Arie 'Bersyukur' Dilaporkan Kubu Prabowo, Fakta Lengkap Akan Terungkap!
Kemenag juga mengakui bahwa dinamika kehidupan keagamaan tetap muncul di berbagai daerah. Karena itu, pemerintah terus melakukan upaya mitigasi agar persoalan yang muncul di lapangan tidak berkembang menjadi gangguan terhadap kerukunan.
“Pada saat yang sama, kami di Kementerian Agama juga terus berupaya meningkatkan kualitas kerukunan dan memitigasi berbagai dinamika yang muncul di lapangan,” terangnya.
Temuan Poltracking tersebut juga memiliki konteks lain dari sisi pengukuran kerukunan. Kemenag mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama atau IKUB 2025 berada di angka 77,89 dan menjadi capaian tertinggi selama 11 tahun pengukuran.
Meski demikian, Kemenag tidak melihat kerukunan hanya sebagai persoalan angka. Pemerintah menilai kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan organisasi keagamaan, tokoh agama, dan masyarakat agar hubungan antarumat tetap terjaga.
Konsistensi hasil survei Poltracking menjadi poin penting dalam melihat penilaian publik terhadap isu tersebut. Selama tiga kali pengukuran pada 2026, kerukunan tetap berada di posisi teratas dibandingkan sejumlah persoalan lain yang ditanyakan kepada responden.
Dengan angka 72,5 persen pada survei Agustus, pemerintah mendapatkan sinyal positif bahwa upaya menjaga hubungan antarumat masih dinilai berhasil. Namun, Kemenag menekankan capaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab untuk mempertahankan kondisi yang sudah terbentuk.
Kerukunan yang terus mendapat penilaian tinggi akhirnya menjadi salah satu capaian yang relatif konsisten dalam pemerintahan Prabowo-Gibran sepanjang 2026. Tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan angka tersebut, melainkan memastikan berbagai dinamika di lapangan tidak mengikis kepercayaan publik terhadap kondisi kerukunan antarumat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: