Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat signifikan pada awal perdagangan Jumat (4/9/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.631 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 0,27% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.679 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pada perdagangan hari ini mata uang Garuda akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada rentang Rp17.630 - Rp17.680.
Pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen domestik. Pasar juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Gubernur BI yang baru, Destry Damayanti.
Destry resmi dilantik sebagai Gubernur BI pada Rabu (2/9/2026) dan menjadi perempuan pertama yang memimpin bank sentral Indonesia. Dalam sidang penetapannya, Destry menyampaikan komitmen untuk menjaga kebijakan BI tetap responsif terhadap berbagai tantangan ekonomi, sekaligus memperkuat stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dalam sidang penetapannya, ua berkomitmen untuk menjaga kebijakan tetap responsif terhadap tantangan ekonomi sembari mendorong stabilitas dan mendukung pertumbuhan," jelas dia kepada wartawan.
Arah kebijakan yang diusung Destry akan berlandaskan pada tiga prinsip utama, yakni impactful atau memberikan dampak nyata, inklusif, dan integratif. Ketiga prinsip tersebut akan disatukan dalam komitmen Sinergi Merah Putih untuk mendukung kemajuan ekonomi nasional.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.679, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI di Era Destry
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.728, Berpotensi Berbalik Arah
Dari sisi domestik, salah satu tantangan utama yang dihadapi BI adalah menjaga stabilitas harga. Untuk itu, BI berkomitmen memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna mengendalikan inflasi sekaligus menciptakan iklim sektor riil yang lebih kondusif.
Koordinasi tersebut menjadi penting karena tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah faktor yang perlu diwaspadai antara lain tingginya biaya input dan logistik, kenaikan harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El NiƱo.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: