Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.728, Berpotensi Berbalik Arah

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.728, Berpotensi Berbalik Arah Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan pasar spot Kamis (3/9/2026). Rupiah dibuka di level Rp17.728 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,2 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.763 per dolar AS.

Meski menguat pada awal perdagangan, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini akan cenderung fluktuatif dan berpotensi kembali melemah.

“Sedangkan untuk perdagangan hari ini mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.760-Rp17.800,” kata Ibrahim kepada wartawan.

Menurut Ibrahim, salah satu sentimen yang perlu diperhatikan pasar adalah perkembangan inflasi domestik, terutama tekanan yang berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga komoditas pangan yang cukup tinggi pada Agustus 2026. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan terhadap daya beli masyarakat apabila kenaikan harga pangan berlanjut.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi pada Agustus 2026.

Secara bulanan (month-to-month/MtM), inflasi umum pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen. Angka tersebut berbalik dari deflasi 0,14 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi umum mencapai 3,19 persen pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan inflasi Juli 2026 sebesar 2,88 persen.

Kenaikan inflasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah, terutama apabila tekanan harga domestik terus berlanjut dan berdampak terhadap daya beli masyarakat.

Meski demikian, tekanan dari inflasi domestik masih mendapat penopang dari kinerja sektor eksternal. Salah satunya berasal dari surplus perdagangan Indonesia pada Juli 2026 yang didukung oleh kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi.

Indonesia mencatat nilai ekspor pada Juli 2026 sebesar US$26,22 miliar, meningkat 6,05 persen dibandingkan Juli 2025.

Baca Juga: BI Fokus Jaga Rupiah di Tengah Situasi Higher for Longer, Destry Ungkap Strateginya

Baca Juga: Asumsi Makro RAPBN 2027 Disepakati! Ekonomi Ditarget Tumbuh 6%, Rupiah Dipatok Rp17.500

Kenaikan tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas pada Juli 2026 mencapai US$25,45 miliar atau tumbuh 6,84 persen secara tahunan.

Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar US$0,79 miliar, turun 14,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ekspor yang tetap kuat dan surplus perdagangan menjadi salah satu faktor yang dapat menopang stabilitas rupiah karena menjaga pasokan valuta asing dari aktivitas perdagangan internasional.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: