Sering Bolos hingga Tolak Jadi Ustaz, tapi Zulhas Sudah Raup Rp1 M Sebulan di Tahun 1985
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Perjalanan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, menuju kesuksesan finansial ternyata tidak dimulai dari kehidupan yang serba mudah. Jauh sebelum menduduki posisi penting di pemerintahan, Zulhas sempat diarahkan sang ayah untuk menjadi ustaz, tetapi pilihan hidupnya justru membawanya ke jalan yang berbeda.
Kisah penuh lika-liku itu dibagikan Zulhas saat berbincang dalam 1on1 session di acara Lampung Financial Festival 2026. Ia terlebih dahulu mengungkap cerita soal kesulitannya mengikuti sejumlah mata pelajaran saat menempuh pendidikan di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Bandar Lampung yang akhirnya membuatnya sering bolos.
"Saya kesulitan pelajaran Bahasa Arab. Asal belajar Bahasa Arab, saya bolos. Ada dua pelajaran yang saya bolos. Satu pelajaran Bahasa Arab, satu pelajaran menyanyi. Saya daftar SMA 1, tapi orang tua saya nggak setuju. Alasannya ya saya mesti jadi ustaz. Ayah saya ingin jadi kiai anaknya seperti Buya Hamka," kata Zulhas.
Baca Juga: Biaya Produksi Beras RI 3 Kali Lipat Thailand-Vietnam, Zulhas: Kita Kalah
Keputusan untuk tidak melanjutkan jalur pendidikan agama tersebut sempat membuat sang ayah marah. Namun, Zulhas tetap memilih jalan yang diyakininya dengan merantau ke Jakarta setelah lulus SMA.
"Ibu saya kasih saya kalung, kasih saya cincin. Dia punya cincin bukan berlian, dulu intan namanya. Terus saya dikasih gelang. Modal itulah merantau ke Jakarta," ujarnya.
Sesampainya di Jakarta, Zulhas sempat mencoba melanjutkan pendidikan tinggi dengan mendaftar ke fakultas kedokteran. Sayangnya, ia tidak diterima. Ia kemudian bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian yang saat itu masih tergabung dengan sektor kelautan dan kehutanan.
Namun, kehidupan sebagai PNS ternyata tidak membuatnya merasa cukup. Zulhas menilai penghasilan sebagai pegawai negeri kala itu hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situlah muncul keberaniannya untuk meninggalkan pekerjaan dan mencoba membangun usaha sendiri.
Keinginan tersebut semakin kuat setelah Zulhas mengamati aktivitas perdagangan di sekitar tempat tinggalnya di Jakarta Timur. Ia sering pergi ke pasar dan mulai bertanya-tanya mengapa sebagian pedagang bisa memiliki kondisi ekonomi jauh lebih baik.
"Saya suka ke pasar, saya lihat. Dulu saya tinggal di Jakarta Timur, namanya ada Pasar Mester di sana. Saya lihat, ini orang Tiongkok kaya-kaya. Kok saya nggak punya uang, kok miskin? Kita pelajari. Kenapa dia bisa sukses," ungkapnya.
Rasa penasaran itu kemudian mendorong Zulhas untuk banyak belajar. Ia mulai membaca berbagai buku mengenai cara membangun kekayaan, mengikuti sejumlah kursus, hingga akhirnya memilih bidang marketing sebagai keahlian yang ingin didalaminya.
Keberanian mengambil risiko dan kegigihan mempelajari marketing kemudian membuahkan hasil. Meski tidak menjelaskan secara spesifik usaha apa yang dijalankannya, Zulhas mengaku pencapaian finansialnya sudah cukup besar ketika usianya masih muda.
"Kira-kira saya sudah punya penghasilan kalau uang sekarang Rp1 miliar 1 bulan, tahun 85," ucap Zulhas.
Penghasilan tersebut tidak terlepas dari keberaniannya membangun jaringan bisnis hingga ke luar negeri. Zulhas menyebut pada masa itu dirinya sudah melakukan perdagangan dengan sejumlah negara, yakni China, Hong Kong, dan Korea.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: