Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Menyebar Jauh, Ini Gambaran dari Letusan Krakatau 1883
Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak hingga ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera, terutama dalam bentuk hujan abu. Material vulkanik hasil erupsi dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang cukup jauh dari sumber letusan.
Abu vulkanik merupakan campuran partikel batuan, mineral, dan kaca yang dikeluarkan gunung berapi saat terjadi letusan. Partikel tersebut berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2 milimeter. Ketika gunung berapi mengalami erupsi, abu vulkanik bersama uap air dan gas panas membentuk kolom abu yang membubung di atas gunung.
Karena berukuran sangat kecil dan memiliki massa jenis relatif rendah, partikel abu dapat terbawa angin dalam jarak jauh. Ketika kolom abu bergerak mengikuti arah angin, material tersebut membentuk semburan atau kepulan abu.
Dalam buku Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects karya Tom Simkin dan Richard Fiske, disebutkan sejumlah wilayah yang terdampak sebaran material dari letusan dahsyat Krakatau.
Hujan abu tercatat terjadi di Singapura yang berjarak sekitar 840 kilometer ke arah utara dan Kepulauan Cocos/Keeling sekitar 1.155 kilometer ke arah barat daya.
Material letusan bahkan dilaporkan menimpa kapal-kapal yang berada hingga sekitar 6.076 kilometer di sebelah barat-barat laut Krakatau.
Dampak letusan juga terlihat dari kondisi di Selat Sunda. Kegelapan menyelimuti kawasan tersebut sejak sekitar pukul 11.00 pada 27 Agustus 1883 hingga fajar keesokan harinya.
Partikel abu yang sangat halus dan aerosol dari letusan Krakatau 1883 juga mencapai lapisan atmosfer yang tinggi. Material tersebut dilaporkan mencapai stratosfer pada ketinggian sekitar 50 kilometer dan menyebar mengelilingi garis khatulistiwa dalam waktu sekitar 13 hari.
Keberadaan partikel di atmosfer kemudian menimbulkan fenomena optik di berbagai wilayah. Salah satunya adalah perubahan warna Matahari yang terlihat biru dan hijau.
Sekitar tiga bulan setelah letusan, material vulkanik tersebut menyebar ke garis lintang yang lebih tinggi dan memunculkan warna merah menyala pada saat Matahari terbenam.
Fenomena tersebut bahkan dilaporkan berlangsung selama bertahun-tahun. Di sejumlah wilayah, warna langit yang tidak biasa membuat masyarakat mengira terjadi kebakaran.
Baca Juga: Letusan Krakatau 1883: Ketika Bencana dari Selat Sunda Menggetarkan Dunia
Material vulkanik yang berada di atmosfer juga dapat memengaruhi jumlah radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi.
Dalam catatan mengenai letusan Krakatau 1883 tersebut, selubung debu vulkanik yang menyebar di atmosfer disebut berperan sebagai penyaring radiasi Matahari.
Kondisi tersebut disebut berpengaruh pada penurunan suhu global sekitar 1,2 derajat Celsius pada tahun setelah letusan. Suhu Bumi kemudian disebut tidak kembali ke kondisi normal hingga sekitar 1888.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: