Sejarah Krakatau yang Mengguncang Dunia, dari Letusan 1883 hingga Lahirnya Anak Krakatau
Kredit Foto: Istimewa
Gunung Krakatau memiliki sejarah panjang yang membentang selama berabad-abad hingga akhirnya berevolusi menjadi Gunung Anak Krakatau. Aktivitas vulkaniknya bahkan telah menarik perhatian dunia jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
Mengutip Britannica, cikal bakal Gunung Krakatau terbentuk di kawasan pertemuan lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia. Aktivitas vulkanik selama jutaan tahun kemudian membentuk gunung berbentuk kerucut yang diperkirakan menjulang sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut, dengan bagian dasarnya berada sekitar 300 meter di bawah permukaan laut.
Ilmuwan memperkirakan Krakatau pernah mengalami erupsi besar sekitar 416 Masehi. Letusan tersebut diduga menghancurkan sebagian puncak gunung dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 6 kilometer.
Kaldera itu kemudian membentuk sejumlah pulau kecil di kawasan Selat Sunda, yakni Sertung di timur laut, Lang dan Polish Hat di barat laut, serta Rakata di bagian selatan. Rakata menjadi pulau dengan dataran tertinggi di antara pulau-pulau tersebut.
Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya aktivitas vulkanik, keempat pulau tersebut kemudian menyatu hingga membentuk gunung dengan ketinggian sekitar 813 meter di atas permukaan laut. Gunung inilah yang kemudian dikenal sebagai Krakatau.
Aktivitas Krakatau kembali meningkat pada abad ke-17 hingga ke-19 sebelum mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Dahsyatnya letusan disebut terdengar hingga Australia yang berjarak sekitar 3.500 kilometer, sementara material vulkanik membumbung tinggi dan abu menyebar hingga wilayah yang sangat luas.
Dampak letusan 1883 tidak hanya terasa di sekitar Selat Sunda, tetapi juga dilaporkan hingga wilayah yang sangat jauh. Gempa dan gelombang tekanan disebut terasa sampai Hawaii dan Amerika Selatan, sementara jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai sekitar 36 ribu orang.
Letusan Krakatau kemudian menjadi perhatian dunia karena dampaknya terhadap atmosfer dan iklim global. Suhu rata-rata dunia sempat menurun sekitar 0,5 hingga 1,2 derajat Celsius selama beberapa tahun setelah letusan, sementara langit di sejumlah wilayah tampak lebih merah saat siang dan bulan terlihat dengan nuansa kebiruan.
Peristiwa tersebut bahkan disebut menginspirasi pelukis Norwegia Edvard Munch dalam karya terkenalnya, The Scream, yang dibuat pada 1893. Warna langit dalam lukisan itu kerap dikaitkan dengan fenomena atmosfer setelah letusan Krakatau, meski hubungan langsung antara keduanya masih menjadi bahan perdebatan.
Erupsi Krakatau baru benar-benar mereda pada 1927 sebelum aktivitas vulkanik kembali melahirkan puncak baru yang muncul ke permukaan laut setahun kemudian. Pada 1930, terbentuk kerucut vulkanik baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau dengan ketinggian sekitar 300 meter.
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan kekuatannya pada 22 Desember 2018 ketika erupsi memicu tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh dan ketinggian Anak Krakatau berkurang menjadi sekitar 100 meter di atas permukaan laut.
Baca Juga: Erupsi Menerus 25 Jam Berakhir, Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Kini, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah statusnya meningkat menjadi Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB berdasarkan informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas vulkanik kembali meningkat pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB, dengan aliran lava terlihat dari perairan Selat Sunda dan sebaran abu mencapai Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Aktivitas tersebut juga mendapat perhatian media asing karena dampaknya terhadap penerbangan. Sejumlah jalur penerbangan di wilayah terdampak bahkan sempat ditutup sementara, termasuk penerbangan domestik dan internasional, sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: