Disebut Punya Finansial 'Tak Berseri', Pengamat Beberkan Alasan PSI Belum Goda Dedi Mulyadi
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan partai yang memiliki daya tarik besar bagi banyak kalangan.
Menurutnya, tak sedikit pihak yang menganggap PSI memiliki kekuatan finansial yang besar sehingga mampu menarik sejumlah tokoh politik untuk bergabung.
Baca Juga: Ancaman Tersembunyi Golkar-Gerindra Jika Dedi Mulyadi Gabung PSI, Bisa Tamat!
"PSI kan menarik bagi semua pihak karena dianggap punya finansial yang tidak berseri, uangnya banyak sekali sehingga dia akan merangkul semua kekuatan-kekuatan tokoh-tokoh partai untuk masuk ke PSI," ujar Ginting dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (27/9).
Meski demikian, Ginting menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) belum akan mengajak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang saat ini masih berstatus kader Partai Gerindra, untuk bergabung dengan PSI.
Menurutnya, Jokowi masih mempertimbangkan hubungan politiknya dengan Presiden Prabowo Subianto yang juga menjabat Ketua Umum Partai Gerindra. Karena itu, langkah membawa KDM ke PSI dinilai belum menjadi prioritas saat ini.
"Jadi poin penting yang menurut saya kemungkinan akan dilakukan oleh Jokowi di dalam membaca hubungan dengan Prabowo dan kepentingannya terhadap KDM adalah tidak membutuhkan KDM untuk menjadi kader PSI sekarang Supaya konflik dengan Prabowo tidak di awal, beda kalau di ujung menjelang Pilpres," ungkapnya.
Menurut Ginting, langkah yang lebih penting bagi Jokowi saat ini adalah menjaga KDM tetap berada dalam orbit politiknya sebagai salah satu opsi pasangan bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
"Jadi mungkin yang terlebih penting bagi Jokowi adalah KDM tetap di dalam orbit Jokowi untuk berpasangan dengan Gibran di 2029, tetapi dia tetap di Gerindra dulu, tapi tetap hubungannya dengan Jokowi terus dibangun secara komunikasi politik," jelasnya.
Sebagai informasi, sejumlah survei nasional terbaru menempatkan elektabilitas Dedi Mulyadi di posisi yang sangat kompetitif dalam bursa calon presiden 2029, bahkan melampaui Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa simulasi.
Baca Juga: Selamat Ginting: Jika Salah Langkah, Dedi Mulyadi Bisa Bernasib Seperti Ridwan Kamil
Berdasarkan survei Tempo Data Science yang dirilis pada 26 Agustus 2026, dalam simulasi pertanyaan terbuka mengenai kandidat presiden terkuat, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di kisaran 41-42 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 15 persen.
Sementara itu, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 juga menunjukkan tren serupa. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi menempati posisi pertama dengan elektabilitas 35 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 14,5 persen.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: