Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.640 per USD di Tengah Risiko Bencana
Kredit Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Senin (7/9/2026). Mata uang Garuda terparkir di level Rp17.640, atau menguat tipis 2 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya Rp17.642 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi di tengah ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya, menurut Ibrahim, bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing.
"Kekhawatiran pasar masih membayangi terkait bencana alam, termasuk Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini memang menimbulkan dampak yang sangat masif di sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat," jelas dia kepada wartawan.
Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik telah menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di setidaknya delapan bandara, dengan sekitar 170.000 penumpang tertahan di berbagai Lokasi.
Bencana alam yang terjadi secara serempak, termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito membuat transportasi Batubara terhenti dan ini turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.646 per Dolar AS
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,27% ke Rp17.631 Terdorong Sentimen Domestik
"Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama," jelas dia.
Selain itu, lanjut Ibrahim, pasar juga tetap berhati-hati menjelang rilis data domestik penting pekan ini, terutama data cadangan devisa bulan Agustus, sentimen konsumen, dan penjualan ritel bulan Juli.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: