Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Munarman Ungkap Dugaan Strategi Jokowi Tempatkan Gibran sebagai Wapres, Singgung Pilpres 2029

Munarman Ungkap Dugaan Strategi Jokowi Tempatkan Gibran sebagai Wapres, Singgung Pilpres 2029 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Praktisi hukum Munarman mengaitkan posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden dengan strategi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi. Menurut Munarman, ada konsekuensi politik tersendiri dari posisi tersebut karena Presiden Prabowo Subianto berada di posisi utama dalam memikul tanggung jawab pemerintahan.

Munarman menilai konfigurasi Prabowo-Gibran perlu dilihat bukan hanya dari hubungan Presiden dan Wakil Presiden, tetapi juga dari kemungkinan arah politik menuju Pilpres 2029. Ia kemudian menyoroti perkembangan jaringan relawan yang menurutnya mulai mengarah pada penguatan posisi Gibran.

Pandangan tersebut disampaikan Munarman dalam tayangan YouTube Forum Keadilan Madilog yang dikutip pada 3 September 2026. Ia menyebut keputusan menempatkan Gibran sebagai wapres memiliki keuntungan politik tersendiri bagi Jokowi dan putranya.

“Itulah pintarnya Jokowi dan Gibran. Gibran jadi wapres. Tapi yang tanggung jawab hukum dan politik ada pada Prabowo,” ujar Munarman.

Menurut Munarman, posisi Gibran sebagai wakil presiden berbeda dengan kedudukan Prabowo sebagai presiden. Dalam pandangannya, tanggung jawab utama atas penyelenggaraan pemerintahan tetap berada pada presiden, sementara Gibran menjalankan peran sebagai wakil dalam pemerintahan yang sama.

Dari konfigurasi tersebut, Munarman kemudian mengarahkan pembahasan pada kemungkinan langkah politik Gibran menuju 2029. Ia melihat perkembangan sejumlah kelompok relawan setelah Pilpres 2024 sebagai salah satu hal yang patut diperhatikan.

“Pasca Pilpres, sejumlah organ relawan yang semula menyebut diri sebagai relawan keduanya membelah diri. Sebagian berkumpul membentuk hanya menjadi relawannya Gibran,” ujar Munarman.

Menurut dia, perubahan arah dukungan tersebut tidak hanya terjadi di tingkat pusat. Munarman menyebut jaringan yang mendukung Gibran disebut berkembang hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, RW, bahkan RT.

“Ini menunjukkan begitu ambisiusnya Gibran untuk meraih kursi kepresidenan 2029,” katanya.

Munarman membaca keberadaan jaringan tersebut sebagai indikasi bahwa kontestasi politik 2029 sudah mulai dipersiapkan sejak jauh hari. Namun, ia tidak serta-merta menyebut Gibran pasti akan menjadi salah satu kandidat dalam pemilihan presiden mendatang.

Baca Juga: Bukan Pramono atau Megawati, Lawan Terberat Prabowo Adalah Gibran bin Jokowi

Justru, Munarman mempertanyakan posisi Prabowo dalam peta politik menuju 2029. Menurut dia, pertanyaan yang lebih mendasar bukan sekadar apakah Gibran dapat maju, melainkan apakah Prabowo akan kembali mengikuti kontestasi tersebut.

“Pertanyaannya bukan apakah dia bisa maju atau tidak. Apakah Prabowo bisa melanjutkan bertarung lagi 2029? Pertanyaannya kan begitu,” tuturnya.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena posisi Gibran sebagai wapres saat ini tidak secara otomatis menentukan siapa yang akan bertarung dalam Pilpres 2029. Konstelasi politik menuju pemilu berikutnya masih dapat berubah bergantung pada keputusan para tokoh, partai politik, serta dinamika koalisi.

Pernyataan Munarman juga menunjukkan bagaimana posisi Gibran saat ini dibaca sebagai bagian dari perjalanan politik jangka panjang. Meski demikian, penilaian mengenai adanya strategi khusus Jokowi maupun ambisi Gibran menuju Pilpres 2029 merupakan pandangan Munarman yang tidak dapat diposisikan sebagai fakta yang telah terbukti.

Sorotan Munarman bertumpu pada dua hal, yakni konfigurasi kekuasaan Prabowo-Gibran dan perkembangan jaringan relawan yang disebut mulai mengarah kepada Gibran. Dari dua hal tersebut, ia kemudian mengaitkannya dengan kemungkinan pertarungan politik menuju Pilpres 2029.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama